Rabu, 17 Desember 2014

HIKMAH YANG TERKANDUNG DALAM SHOLAT



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Shalat adalah  tiang agama. Shalat memiliki hikmah yang begitu mendasar. Ia berfungsi sebagai tonggak tegaknya bangunan hidup serta bangunan megah yang memiliki sejuta ruang yang dibutuhkan bagi kehidupan dengan segala sendi-sendinya. Bagi yang mengerjakannya, shalat akan menorehkan kedamaian dan ketenangan dalam kalbu, tak mudah mengadu, tak gampang goncang dan menggerutu apabila ada musibah yang menimpa. Bahkan, ia akan segera menyadari dengan kesadaran yang teramat dalam bahwa segala yang merundung manusia adalah cobaan dari Sang Pencipta.
Ibadah shalat yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam adalah bangunan indah yang memiliki sejuta ruang yang menampung semua inspirasi dan aspirasi serta ekspresi positif seseorang untuk berprilaku baik. Karena, perkataan dan perbuatan yang terangkum dalam ibadah shalat banyak mengandung hikmah. Banyak orang yang mengkaji tentang shalat dengan kajian yang berbeda. Ada yang memandangnya dari segi eksistensi shalat sebagai ibadah vertikal, segi sosial masyarakat, segi kesehatan, atau segi keutamaan dalam kehidupan seorang muslim, dan lain sebagainya.[1]
 Dari pernyataan diatas maka penulis tertarik untuk mengungkap lebih jauh lagi tentang “Hikmah Yang Terkandung Dalam Shalat”.
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka disusunlah rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apa saja hikmah yang terkandung dalam shalat?
2.      Bagaimana pendapat-pendapat ulama tentang hikmah yang terkandung dalam shalat?

C.      Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka penulis tertarik mengadakan penelitian dengan tujuan:
1.      Untuk mengetahui hikmah-hikmah yang terkandung dalam shalat baik itu dari perkataan dan perbuatan.
2.      Untuk mengetahui pendapat-pendapat ulama tentang hikmah yang terkandung dalam shalat.

D.      Definisi Operasional
Untuk mempermudah dalam penelitian ini, maka penulis akan mengemukakan beberapa definisi operasional, sebagai berikut:
1.      Ulama adalah orang yang ahli dalam pengetahuan tentang Islam.
2.      Sholat merupakan tiang agama umat Islam, di mana dengan sholat berarti kita takut dan tunduk kepada Allah.
3.      Hikmah adalah sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi yang mengerjakannya.

BAB II
LANDASAN TEORI

A.      Hikmah Shalat Dimulai Dengan Takbir
Hikmah shalat dimulai dengan takbir adalah dalam rangka memulai ibadah shalat dengan menyucikan dan mengagungkan Allah SWT serta menyifatinya dengan sifat-sifat kesempurnaan. Menurut Al-Qadhi ‘Iyadh, hikmahnya adalah orang yang shalat dikondisikan untuk menghadirkan sifat keagungan Zat-Nya dan dipersiapkan untuk patuh dan berdiri di hadapan-Nya agar ia penuh rasa takut sehingga hatinya hadir, benar-benar khusyuk, serta tidak ada kesempatan baginya untuk bersenda gurau.

B.       Hikmah Mengangkat Kedua Tangan
Para ulama sedikit berbeda dalam menguraikan hikmah tentang mengangkat kedua tangan. Menurut Imam Asy-Syafi’I, hikmahnya adalah untuk mengagungkan Allah SWT dan mengikuti jejak langkah Rasulullah SAW. Ada ulama lain yang berpendapat, mengangkat dua tangan itu karena tunduk, merendahkan diri, pasrah, dan patuh. Ini dianalogikan dengan orang yang tertawan. Ketika ia sudah terkalahkan, maka dia mengangkat kedua tangan sebagai tanda kepasrahan.

C.      Hikmah Meletakkan Dua Tangan di Bawah Dada dan di Atas Pusar
Hikmah meletakkan dua tangan di bawah dada dan di atas pusat adalah agar kedua tangan itu berada  di atas anggota badan yang paling mulia, yaitu hati. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga iman di dalamnya, karena orang yang ingin memelihara sesuatu, maka kedua tangannya harus diletakkan di atas sesuatu tersebut. Ada yang berpendapat bahwa hal ini lebih mendorong kekhusyukan dalam melaksanakan shalat.

D.      Hikmah Doa Iftitah
Doa iftitah merupakan ketetapan dari Rasulullah SAW pada awal rakaat pertama shalat. Doa iftitah berisi ungkapan pujian kepada Allah SWT, pengakuan diri akan kelengahan dan aniaya, permohonan ampunan pada Allah SWT, dan permintaan memiliki akhlak yang terbaik, serta permohonan perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari akhlak buruk.

E.       Hikmah Membaca Surah Al-Fatihah
Membaca Al-Fatihah dimulai dengan basmalah menunjukkan bahwa hanya dengan nama Zat yang menjadi tujuan pelaksanaan kewajiban, orang shalat bisa memiliki kemampuan untuk melaksanakan setiap kewajiban. Ia pun bisa memohon pertolongan Allah SWT untuk mencapai keridhaan dan rahmat-Nya, juga memohon untuk dijauhkan dari siksa-Nya.

F.       Hikmah Membaca Surah Setelah Membaca Al-Fatihah
Hikmahnya adalah untuk mengikuti jejak langkah Nabi Muhammad SAW, seperti yang terdapat dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim.

G.      Hikmah Rukuk
Yaitu agar orang yang shalat termasuk dalam kelompok orang yang diseru dalam firman Allah QS. Al-Hajj ayat 77.

H.      Hikmah Iktidal Berdiri
Yaitu sebagai suatu penggambaran diri seseorang di sisi Allah Azza wa Jalla untuk memperingatkan hati agar tetap bersikap rendah diri, merasa hina, menjauhi sifat gila jabatan dan perilaku sombong, serta mengingatkan betapa bahayanya berdiri di sisi Allah.

I.         Hikmah Sujud
Yaitu untuk menghina setan yang tidak mau sujud kepada Nabi Adam as. sujud juga dapat memudahkan diterimanya doa. Hikmah lainnya menurut Imam Al-Iraqi yaitu menanamkan sikap rendah hati, karena orang yang sujud itu mengguling-gulingkan wajahnya di tempat sujud.

J.        Hikmah Mengangkat Jari Telunjuk ketika Membaca Syahadat
Yaitu menunjukkan bahwa Tuhan yang berhak disembah hanyalah Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, pada waktu mengangkat jari telunjuk tersebut orang yang shalat menyelaraskan antara ucapan, pekerjaan, dan keyakinan dalam mengesakan Allah SWT.


K.      Hikmah Bacaan Pada Waktu Tasyahud
Dua kalimat syahadat disebut tasyahud karena dikalimat itu ada dua kesaksian. Pertama, kesaksian akan keesaan Allah SWT. Kedua, kesaksian akan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Tujuan bacaan tasyahud adalah memuji Allah SWT yang memiliki seluruh penghormatan yang datang dari makhluk. Kata at-tahiyyat sendiri berbentuk jamak, karena setiap raja itu mempunyai penghormatan tersendiri yang dikenal luas untuk dihormati.

L.       Hikmah Mengucapkan Salam
Menurut Al-Qaffal, saat bertakbiratul ihram orang yang shalat berpaling dari manusia dan hanya menghadap Allah SWT, sedangkan pada waktu salam ia menghadap manusia kembali.[2]









DAFTAR PUSTAKA

Ash-Shiddieqy, Muhammad, Tengku, Pedoman Sholat. Jakarta: Bulan Bintang, Cet. 21, 1993.
Masykuri , Abdurrahman, Kupas Tuntas Salah. Jakarta: Erlangga, 2006.



[1] Muhammad Tengku Ash-Shiddieqy, Pedoman Sholat, (Jakarta: Bulan Bintang, 1993), cet. 21, hal. 27
[2] Abdurrahman Masykuri, Kupas Tuntas Salah (Jakarta: Erlangga, 2006), hal. 274-290

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar