Jumat, 22 Agustus 2014

Pengertian dan Lingkup Yang Terkandung dari Suatu Produk



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap produsen selalu berusaha melalui produk yang dihasilkannya dapatlah tujuan dan sasaran perusahaannya tercapai. Produk yang dihasilkan dapat terjual atau dibeli oleh konsumen akhir dengan tingkat harga yang memberikan keuntungan perusahaan jangka panjang. Melalui produk yang dapat dijualnya perushaan dapat menjamin kehidupannya atau menjaga kestabilan usahanya berkembang.
Untuk mencapai tujuannya, setiap perusahaan mengarahkan kegiatan usahanya untuk menghasilkan produk yang dapat memberikan kepuasan konsumen, sehingga dalam jangka panjang perushaan mendapatkan keuntungan yang diharapkannya. Oleh karena itu, keberhasilan suatu perusahaan sangat ditentukan oleh keberhasilan usaha pemasaran produk yang dihasilkan namun dalam makalah ini yang akan dibahas bukan mengenai kepuasan konsumen terhadap produk melainkan mengenai penjelasan apa itu produk, merek dan siklus hidup produk (PLC).

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan produk?
2. Apa yang dimaksud dengan merek?
3. apa yang dimaksud dengan PLC?






BAB II
PEMBAHASAN

A. Produk
Pengertian produk menurut para ahli pemasaran :
1.      Produk menurut Kotler dan Amstrong adalah segala sesuatu yang ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli, dipergunakan dan yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan konsumen.
2.      Produk menurut Stanton adalah kumpulan dari atribut-atribut yang nyata maupun tidak nyata, termasuk di dalamnya kemasan, warna, harga, kualitas dan merk ditambah dengan jasa dan reputasi penjualannya.
3.      Produk menurut Tjiptono secara konseptual adalah pemahaman subyektif dari produsen atas “sesuatu” yang bisa ditawarkan sebagai usaha untuk mencapai tujuan organisasi melalui pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen, sesuai dengan kompetensi dan kapasitas organisasi serta daya beli masyarkat.[1]
Pembahasan pengertian dan lingkup yang terkandung dari suatu produk, dimulai dengan konsep tentang produk tersebut. Dalam konsep produk perlu dipahami tentang wujud (tangible) dari produk, disamping extented product dan generic product. Dengan wujud produk dimaksudkan ciri-ciri atau atau fisik produk dilihat dari konsumen fungsinya dapat memenuhi kebutuhan atau keinginannya, dengan memakai atau menggunakan produk tersebut. Wujud produk menunjukkan ciri untuk apa suatu produk dibeli atau dikonsumsi. Penekanan wujud fisik dari produk ini adalah fungsi dari produk tersebut, disamping desain, warna, ukuran, dan pengepakannya.[2] Dari wujud fisik inilah, konsumen atau pembeli membedakan satu produk dengan produk lain, sehigga menarik motivasi konsumen atau pola pembeliannya.
Karena wujud fisik dari produk sangat penting peranannya dalam pemasaran, maka perlu diusahakan agar produk tersebut mempunyai penampilan, gaya, dan warna yang menarik dengan ukuran yang tepat.
Produk tidak hanya dilihat dari wujud fisiknya, tetapi juga mencakup pelayanan, harga, tempat, organisasi, ide dan penyalurannya, yang semuanya diharapkan oleh konsumen dapat memenuhi keinginannya (cunsumer’s want-satisfaction). Konsep ini dikenal dengan perluasan produk atau ectented product. Disamping wujud fisik dan perluasannya. suatu produk juga dilihat dari manfaat atau kegunaannya secara menyeluruh, yang sifatnya merupakan jawaban pemecahan masalah yang dihadapi oleh konsumen. Konsumen yang menghadapi dahaga atau haus akan dapat menggunakan salah satu dari produk minuman ringan, seperti teh botol, susu steril, air minum mineral dan minuman lainnya untuk mengatasi rasa dahaganya tersebut.
Demikian pula masyarakat yang ingin menghabiskan masa senggang atau istirahatnya, dapat memilih bermacam macam pilihan. Pada hakikatnya, seseorang membeli suatu produk bukan hanya sekedar ia ingin memiliki produk tersebut.
Para pembeli membeli barang atau jasa, karena barang atau jasa tersebut dapat digunakan sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan dan keinginannya. Dengan kata lain, seseorang membeli produk bukan karena fisik produk itu semata-mata, tetapi karena msanfaat yang ditimbulkan dari produk yang dibelinya tersebut.
Pada dasarnya produk yang dibeli konsumen itu dapat dibedakan atas tiga tingkatan, yaitu:
1.    Produk inti (core product), yaitu merupakan inti atau dasar yang sesungguhnya dari produk yang ingin diperoleh atau didapatkan oleh seorang pembeli atau konsumen dari produk tersebut.
2.      Produk formal ( formal product), yang merupakan bentuk, model, kualitas/mutu, merk, dan kemasan yang menyertai produk tersebut.
3.      Produk tambahan (anugement product) adalah tambahan formal dengan berbagai jasa menyertainya, seperti pemasangan (instalasi), pelayanan, pemeliharaan, dan pengangkutan secara cuma-Cuma.[3]
Adapun hubungan ketiga tingkatan produk tersebut adalah produk inti merupakan tingkatan dasar dari produk, yang merupakan suatu bungkusan dari pelayanan penanggulangan masalah, misalnya bila ibu rumah tangga membeli sabun bayi, bukanlah membeli barang yang mempunyai sifat kimia, maupun sifat fisik tertentu, namun mereka membeli suatu harapan yakni kebersihan badan anaknya. Jadi produk inti merupakan jawaban atas pertanyaan “apakah sesungguhnya yang dibeli oleh seorang pembeli?.”
Setiap produk sesungguhnya merupakan bungkusan atau pengemasan dari sesuatu pelayanan yang memecahkan persoalan. Sehingga penekanannya bukan pada barang secara fisik yang ditawarkan, tetapi kegunaan atau manfaat dari barang-barang tersebut. Sedangkan Produk Formal merupakan “ bungkusan “ yang lebih besar dari produk inti, dan mempunyai ciri atau karakteristik  seperti nama/merek dagang, kemasan, penampilan wajah (features), gaya (style) dan mutu/ kualitas. Jadi produk formal merupakan bungkusan atau pengemasan dari produk yang inti yang dikenal oleh pembeli sebagai tawaran nyata. Sehingga produk formal merupakan keadaan produk yang ditawarkan secara fisik atau wujud nyata pada pasar, yang meliputi mutu, penampilan, gaya, merek, dan kemasan. Bungkus terakhir adalah produk tambahan, yaitu cakupan yang terkait dari pembelian satu perangkat barang atau produk, yang termasuk garansi, pelayanan purna jual, suku cadang, pemasaran atau instalasi dan pengiriman atau penyerahan barang sampai di tempat pembeli.



Klasifikasi Produk
Produk dapat di klasifikasikan menjadi beberapa kelompok :
1.      Berdasarkan wujudnya, produk dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, yaitu:
a)      Barang
b)      Jasa
2.      Berdasarkan aspek daya tahannya produk dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
a)      Barang tidak tahan lama
b)      Barang tahan lama
3.      Berdasarkan tujuan konsumsinya, didasarkan pada siapa konsumennya dan untuk apa produk itu dikonsumsi, maka produk diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
a)      Barang konsumsi
b)      Barang industri[4]

B. Merek Dagang (Brand)
Merek adalah nama, istilah, tanda atau lambang dan kombinasi dari dua atau lebih unsur tersebut, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi (barang atau jasa) dari seorang penjual atau kelompok penjual dan yang membedakannya dari produk saingan.[5] Penentuan merk dagang dari produk yang dipasarkan merupakan salah satu teknik dari kebijakan produk yang mendasari strategi pemsaran. Hal ini karena merek dagang hendaklah mudah diingat, mudah dibaca, dan mudah dibedakan. Kegiatan memperkenalkan dan mempopulerkan merek dagang suatu produk merupakan syaratuntuk berhasilnya perusahaan memasarkan produk tersebut. Usaha untuk memilih merek dagang yang tepat, sangat erat hubungannya dengan strategi promosi penjualan dan pengemasan (peckaging).
Pemberian merek pada suatu produk dimaksudkan untuk beberapa alasan, yaitu:
1.      Untuk tujuan identifikasi, guna mempermudah penanganan (handling) atau mencari jejak  (tracing) produk yang dipasarkan.
2.      Melindungi produk yang unik dari kemungkinan ditiru pesaing.
3.      Produsen ingin menekankan mutu tertentu yang ditawarkan dan untuk mempermudah konsumen menemukan produk tersebut kembali.
4.      Sebagai landasan untuk mengadakan diferensial harga.
Meskipun merek adalah nama atau tanda, akan tetapi merek mempunyai arti yang penting dalam pemasaran,  karena merek amat efektif sebagai alat untuk meningkatkan atau mempertahankan jumlah penjualan.
Hal ini dapat diharapkan apabila konsumen memperoleh kepuasan dari suatu produk tertentu, sehingga dengan pemberian merek, konsumen dapat mencari dan membeli produk yang diinginkankannya tersebut, karena selalu diingat oleh konsumen (brand loyalty). Apabila merek telah dikenal oleh konsumen, maka dapat diharapkan konsumen mempunyai prefensi atas merek (brand prefernence) produk tersebut. Sedangkan para produsen menggunakan merek untuk meyakinkan para konsumen bahwa suatu merek tertentu menunjukkan standar kualitas/mutu tertent, dengan demikian, diharapkan dapat diperoleh jumlah penjualan dan penguasaan (share) pasar yang stabil dan jika mungkin dapat lebih besar.
 Selain itu, merek yang digunakan untuk membedakan produk tersebut dengan produk saingan yang ada, karena seorang konsumen yang ingin membeli suatu produk akan selalu mencoba mengenali ciri-ciri dari produk tersebut. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa merek itu pada dasarnya mempunyai dua fungsi, yaitu:
1.      Memberikan identifikasi terhadap suatu produk, sehingga para konsumen mengenal merek dagang yang berbeda dengan produk lain.
2.      Untuk menarik calon pembeli.
Penggunaan merek dagang untuk produk yang dipasarkan akhir-akhir ini sangat penting, terutama dikarenakan terdapatnya manfaat atau kegunaan dari penggunaan merek tersebut, baik bagi produsen dan penyalur, maupun bagi konsumen.
Manfaat penggunaan merek bagi produsen adalah:
a.       Untuk dasar melakukan identifikasi, sehingga mudah dalam penangannya dan pencairannya.
b.      Untuk mencegah peniruan ciri khas dari produk.
c.       Untuk menunjukkan taraf mutu tertentu atas produk yang ditawarkan.
d.      Untuk membantu dengan mempermudah konsumen dalam pencairan produk yang terbukti memuaskan kebutuhan dan keinginannya, dan.
e.       Digunakan sebagai dasar untuk membedakan harga dari produk-produknya.
Manfaat penggunaan merek bagi penyalur adalah:
a.       Untuk mempermudah penanganan produknya.
b.      Untuk mempermudah mengetahui penawaran (pensuplaiannya).
c.       Untuk dapat mempertahankan mutu produknya, dan
d.      Untuk membina prefensi pembeli.
Manfaat penggunaan merek bagi konsumen adalah mempermudah mengidentifikasikan produk yang diinginkannya.
Merek dagang yang digunakan oleh perusahaan dapat dibedakan atas merek dagang perusahaan (manufacturers brands) dan merek dagang penyalur (middleman brands).

Pada dasarnya merek dagang perusahaan dapat pula dibedakan atas 4 macam, yang masing-masing akan diuraikan sebagai berikut:
1.      Nama merek untuk produk tertentu (individual brand names). Dalam hal ini nama merek yang digunakan khusus untuk masing-masing jenis produk, yang berbeda dengan jenis produk lainnya. Sebagai contoh, unilever memproduksi dan memasarkan sabun mandi dengan merek lux, colibrita, dan lifeboy.
2.      Nama merek keluarga perusahaan yang digunakan untuk seluruh produk secara kolektif (a blanket family names for all products).
Dalam hal ini merek dagang perusahaan yang diberikan adalah sama untuk seluruh produk yang dihasilkan perusahaan tersebut. Sebagai contoh, perusahaan toshiba memberikan merek toshiba untuk seluruh hasil produksinya.
3.      Nama merek keluarga yang terpisah untuk seluruh produk (separate family names for all products). Dalam hal ini merek yang berbeda untuk tiap-tiap kelompok produk yang dihasilkan perusahaan, misalnya merek A untuk sepatu wanita, dan merek B untuk sepatu pria.
4.      Nama merek dagang perusahaan yang dikombinasikan dengan nama merek produk masing-masing (company trade name combined with individual products names). Dalam hal ini terdapat kombinasi antara merek dagang perusahaan dan nama merek masing-masing produk yang dihasilkan, sebagai contoh misalnya johnson & johnson bedak biang keringat dan lainnya. Contoh lain adalah mobil dari toyota dengan merek toyota crown, toyota corona, toyota corolla, dan toyota kijang.[6]





C. Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle atau PLC)
Siklus hidup produk adalah suatu konsep penting yang memberikan pemahaman tentang dinamika kompetitif suatu produk. [7]
Seperti halnya dengan manusia, suatu produk juga memiliki siklus atau daur hidup. Siklus hidup produk ini yaitu suatu grafik yang menggambarkan riwayat produk sejak diperkenalkan ke pasar sampai dengan ditarik dari pasar. Siklus hidup produk ini merupakan konsep yang penting dalam pemasaran karena memberikan pemahaman yang mendalam mengenai dinamika bersaing suatu produk.
Hasil penjualan dan laba yang diperoleh oleh perusahaan dari pemasaran suatu produk dapat berubah-rubah pada waktu yang berbeda-beda.
 Perkembangan hasil penjualan dan laba suatu produk yang dikaitkan dengan perkembangan waktu, dapat dianalisis dalam siklus usaha produk (product life cycle).
Dengan mempelajari siklus usaha produk dapat diperkirakan permasalahan yang dihadapi dalam pemasaran suatu produk, sehingga dapat dirumuskan rencana pemasaran produk tersebut secara lebih baik.
Siklus Hidup produk (PLC) terdiri dari empat tahap, yaitu pengenalan, pertumbuhan, pematangan, dan penurunan. Penjelasan dari empat tahapan sebagai berikut:
·         Tahap pengenalan (introduction): Pada tahap ini produk baru saja diperkenalkan ke pasar, sehingga belum diperoleh laba yang berarti atau mungkin perusahaan masih rugi, karena masih diperlukan banyak pengeluaran atau biaya untuk promosi perkenalan.
·         Tahap pertumbuhan (growth): Pada tahap ini produk sudah mulai dikenal dan diterima oleh pasar dengan cepat, sehingga terdapat peningkatan kenaikan laba yang terus-menerus dari waktu ke waktu.
·         Tahap pematangan (maturity): Pada tahap ini mulai lambat perkembangannya, karena produk tersebut walaupun telah cukup dikenal dan diterima oleh hampir semua pembeli yang potensial, tetapiterdapat produk saingan yang memasuki pasar, sehingga puncak perolehan laba dilampaui. Dalam periode ini besarnya laba yang diperoleh cenderung menurun, kaarena biaya-biaya yang dikeluarkan bertambah untuk mempertahankan kedudukan produk tersebut di pasar.
·         Tahap penurunan (decline): Pada tahap ini penjualan terus menurun dan laba cenderung tidak diperoleh lagi, sehingga dihadapi kerugian.[8]
Adapun Konsep PLC sangat bermanfaat untuk penerapan strategi pemasaran yang efektif bagi suatu produk, apabila diketahui pada tahap mana produk tersebut berada, sehingga dapat diambil langkah kebijakan pemasaran yang tepat.  
Strategi Siklus Hidup Produk
Bila siklus hidup produk dianggap sebgai nilai strategis bagi suatu perusahaan, maka manajernya harus dapat menentukan dimana posisi siklus hidup produk produknya. Identifikasi tahapan siklus hidup produk ini dapat ditentukan dengan kombinasi tiga faktor yang menunjukkan ciri status produk dan membandingkan hasilnya dengan pola yang umum. Tahap siklus hidup produk suatu produk dapat ditentukan dengan mengidentifikasikan statusnya dalam market volume, rate of change of market volume.


Dalam keempat tahap dari analisa siklus hidup produk ini memiliki beberapa strategi yaitu :
1.      Tahap pengenalan (introduction)
a.       Strategi peluncuran cepat
Peluncuran produk baru pada harga tinggi dengan tingkat promosi yang tinggi.
Perusahaan berusaha menetapkan harga tinggi untuk memperoleh keuntungan yang mana akan dipergunakan untuk menutup biaya pengeluaran dari pemasaran.
b.      Strategi peluncuran lambat
Merupakan peluncuran produk baru dengan harga tinggi dan sedikit promosi. Harga tinggi untuk memperoleh keuntungan sedangkan sedikit promosi untuk menekan biaya pemasaran.
c.       Strategi penetrasi cepat
Merupakan peluncuran produk pada harga yang rendah dengan biaya promosi yang besar. Strategi ini menjanjikan penetrasi pasar yang paling cepat dan pangsa pasar yang paling besar.
d.      Strategi penetrasi lambat
Merupakan peluncuran produk baru dengan tingkat promosi rendah dan harga rendah. Harga rendah ini dapat mendorong penerimaan produk yang cepat dan biaya promosi yang rendah.
2.      Tahap pertumbuhan (growth)
Selama tahap pertumbuhan suatu perusahaan menggunakan beberapa strategi untuk mempertahankan pertumbuhan pasar yang pesat selama mungkin dengan cara:
a.       Meningkatkan kualitas perusahaan serta menambahkan keistimewaan produk dan gaya yang lebih baik.
b.      Perusahaan menambahkan model-model baru dan produk-produk penyerta (yaitu, produk dengan berbagai ukuran, rasa, dan sebagainya yang melindungi produk utama).
c.       Perushaan memasuki segmen pasar baru.
d.      Perushaan meningkatkan cakupan distribusinya dan memasuki saluran distribusi yang baru.
e.       Perusahaan beralih dari iklan yang membuat orang menyadari produk ke iklan yang membuat orang memilih produk.
f.       Perusahaan menurunkan harga untuk menarik pembeli yang sensitif terhadap harga dilapisan berikutnya.
3.      Tahap pematangan (maturity)
a.       Perushaan meningkatkan produk mereka yang kurang kuat dan lebih berkonsentrasi sumber daya pada produk yang lebih menguntungkan dan pada produk baru.
b.      Memodifikasi pasar dimana perushaan berusaha untuk memperluas pasar untuk merek yang mapan.
c.       Perushaan mencoba menarik konsumen yang merupakan pemakai produknya.
d.      Menggunakan strategi peningkatan keistimewaan yang bertujuan menambah keistimewaan baru yang memperluas keanekagunaan, keamanan atau kenyamanan produk.
e.       Strategi defenisif dimana perushaan untuk mempertahankan pasar yang mana hasil dari strategi ini akan memodifikasi bauran pemasaran.
f.       Strategi perbaikan model yang bertujuan meningkatkan kemampuan produk, misalnya daya tahan,kecepatan, dan kinerja produk.
g.      Strategi perbaikan model yang bertujuan untuk menambah daya tarik estetika produk seperti model,warna, kemasan dan lain-lain.
h.      Menggunakan take off strategy yang mana merupakan salah satu strategi yang digunakan untuk mencapai fase penerimaan konsumen baru, strategi ini dapat memperbarui pada saat produk masuk dalam kemasan.

4.      Tahap penurunan (decline)
a.       Menambahkan investasi agar dapat mendominasi atau menempati posisi persaingan yang baik.
b.      Mengubah produk atau mencari penggunaan/ manfaat baru pada produk.
c.       Mencari pasar baru.
d.      Tetap pada tingkat investasi perushaan saat ini sampai ketidakpastian dalam industri dapat diatasi.
e.       Mengurangi investasi perusahaan secara selektif dengan cara meninggalkan konsumen yang kurang menguntungkan.
f.       Harvesting strategy untuk mewujudkan pengembalian uang tunai secara tepat.
g.      Meninggalkan bisnis tersebut dan menjual perusahaan.[9]













BAB III
PENUTUP
A. Simpulan     
Pembahasan pengertian dan lingkup yang terkandung dari suatu produk, dimulai dengan konsep tentang produk tersebut.
Merek adalah nama, istilah, tanda atau lambang dan kombinasi dari dua atau lebih unsur tersebut, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi (barang atau jasa) dari seorang penjual atau kelompokk penjual dan yang membedakannya dari produk saingan
Siklus hidup produk adalah suatu konsep penting yang memberikan pemahaman tentang dinamika kompetitif suatu produk.









\


DAFTAR PUSTAKA

Assasauri, Sofjan. 2004. Manajemen pemasaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.








[2]Assasauri, Manajemen pemasaran. (Jakarta: Raja Grafindo Persada,2004).h.,201
[3] Ibid, h.,202-203
[5] Ibid, h.,204
[6] Ibid, h.,207-208
[8] Ibid, h.,221-222

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar