Jumat, 22 Agustus 2014

Makalah Syair Arab



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Menurut pandangan bangsa Arab, Syair  merupakan puncak keindahan dalam sastra, sebab syair itu adalah suatu bentuk gubahan yang dihasilkan dari kehalusan perasaan dan keindahan daya khayal, karena itu bangsa Arab lebih menyenangi syair dibandingkan dengan hasil satra lainnya.
Apabila dibandingkan antara karangan-karangan ataupun kuliah dan khutbah, maka yang dapat berpengaruh lebih dahulu dihati seseorang adalah gubahan syair, karena gubahan syair itu dapat langsung dirasakan dalam hati walaupun tidak dipikirkan terlebih dahulu. Disini dapat kita ketahui dengan jelas bahwa bangsa Arab lebih menyukai syair daripada bentuk prosa lainnya
Dari pemaparan di atas penulis tertarik untuk menggali lebih dalam lagi mengenai syair dalam kehidupan bangsa Arab dalam bab selanjutnya.

B.       Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian syair?
2.      Bagaimana lahirnya syair?
3.      Bagaimana syair dalam kehidupan bangsa Arab?
4.      Siapa saja tokoh-tokoh syair dan karyanya?

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Syair
Syair, seringkali kita mendengar istilah tersebut dalam buku-buku sejarah kebudayaan bangsa arab terutama pra islam. Istilah tersebut secara etimologis diambil dari asal kata شعورا شعرا يشعر شعر  yang berarti mengetahui, merasakan, sadar, mengomposisi atau mengubah sebuah syair. Sedangkan menurut Jurji Zaidah, syair berarti nyanyian (Al-Ghina), lantunan (Insyadz), atau melagukan (Tartil). Asal kata ini telah hilang dari bahasa arab, namun masih ada dalam bahasa lain seperti syuur dalam bahasa ibrani yang berarti suara, nyanyian, melantunkan lagu. Diantara sumber kata syair adalahشير  (syir) yang berarti kasidah atau nyanyian-nyanyian yang terdapat dalam kitab taurat juga menggunakan nama ini.[1]
Menurut Al-Aqqad, kata Syir harus dikembalikan pada makna aslinya, yaitu bahasa smith. Kata شيرو  pada suku Aqqadi kuno merujuk pada suara nyanyian gereja. Dari kata ini, kemudian pindah ke dalam bahasa ibrani (شير) dengan arti melagukan (Insyadz) dan ke dalam bahasa aramiyah yang bersinonim denganشور ,ترنم  (menyanyikan) dan ترتيل  (melagukan). Namun, sejarah menyebutkan bahwa orang-orang Yahudi lebih dulu berkelud dalam dunia nadzam dari pada orang Hijaz. Dengan demikian menunjukkan bahwa pengalaman dan kemahiran mereka telah memperkuat keberadaan Syir yang berkaitan dengan kasidah dan nyanyian. Berdasarkan sumber itu, orang-orang Arab dipandang kuat telah mengambil شير  dengan huruf ain, jadilah kata Sy’ir (شعر). Kata inilah kemudian digunakan pada kata syair secara universal.[2]
Bagi orang arab, kata sy’ir mempunyai arti tersendiri sesuai dengan pengetahuan, kemampuan, dan kebiasaan mereka. Dalam pandangan mereka, sy’ir berarti pengetahuan, kemampuan dan kebiasaan mereka. Karena sy’ir mempunyai arti kepandaian dan pengetahuan, maka pelakunya dikenal dengan al-Fathin (cerdik pandai). Pendapat ini ada kemiripan dengan pengertian poet dalam bahasa yunani, yang artinya membuat atau mencipta. Poet berarti pencipta melalui imajinasinya, atau orang yang berpengliatan tajam, orang suci, sekaligus filosofis, negarawan, guru, dan menebak kebenaran yang metafisik.
Secara terminologi, dalam Ensiklopedi Islam disebutkan bahwa syair adalah ucapan yang atau susunan kata yang fasih yang terikat dengan rima (pengulangan bunyi) dan matra (unsur irama yang berpola tetap) dan biasanya mengungkapkan imajinasi yang indah dan berkesan memikat. Dalam bahasa melayu/Indonesia, satu koplet syair biasanya terdiri dari empat baris yang berahiran sama yaitu a,a,a,a. Sementara Ibnu Rasyiq lebih mempertegas adanya unsur kesengajaan, sebagaimana ia berkata : “Sesungguhnya syi’r terdiri dari empat hal, yaitu lafadz, wazan, makna dan qafiah. Ini batasan syi’r, karena ada sebuah ungkapan yang berirama dan berqafiah tetapi tidak dapat dikatakan syi’r, karena tidak dibuat-buat dan tidak dimaksud syi’r seperti Al-Qur’an dan Hadits nabi.”[3]



B.       Lahirnya Syair
Keadaan bangsa Arab pada masa sebelum Islam datang dikenal suka berperang, berfoya-foya dan menyembah berhala akan tetapi mereka dikenal cukup luas karena keahliannya dalam bidang sastra. Mereka sangat terkenal karena bahasa dan syairnya. Bahasa Arab adalah bahasa yang memiliki sejarah panjang sesuai dengan kekayaan yang didapat sampai saat ini. Bahasa arab yang sekarang kita tahu adalah kerabat dekat dengan bahasa semitik, misalnya akkad/babylonia, aram, nabatea, ibrani, feonisia dan dialek kanaan lainnya. Dari sebagian banyak bahasa semitik pada waktu itu hanya bahasa Arablah yang masih bertahan sampai sekarang.
Syair pada waktu itu adalah bagian dari kehidupan orang-orang Arab pra Islam. Apa yang menjadi aktivitas orang-orang pra Islam pada waktu itu menjadi sebuah manifestasi yang begitu banyak yang diabadikan didalam puisi. Oleh karenanya tema-tema yang ada pada waktu itu berkisar hanya pada kegiatan sehari-hari mereka, terutama yang paling banyak menjadi tema adalah tentang kesukuan. Syair pada waktu itu bisa menjadi sebuah senjata yang bisa membuat hasrat manusia berdebar, tersanjung, dan memuji sehingga orang yang mendengarkannya merasa terbuai.[4]
Bahkan fanatisme orang-orang Arab yang masih akut sekali kesukuannya menjadi hal paling penting dalam bentuk suatu syair pada waktu itu. Semangat kepahlawanan ditunjukan didalam puisi bukan tak lain untuk menyemangati orang-orang yang akan ikut berperang. Tema dari syair-syair orang Arab pra Islam menurut Ismail Al-Faruqi terjadi karena disebabkan oleh adanya dua keadaan yang sangat beragam, yakni hedonisme dan romantisisme. Hedonisme artinya, bahwa mereka hanya mengejar kehidupan yang bersifat nisbi, mereka tidak terlalu percaya akan adanya hari pembalasan dan menikmati kehidupan, mengejar kebahagiaan adalah tujuan mereka. Sementara romantisisme mungkin lebih pada bagaimana mereka mengagungkan seseorang prihal keadaan perang yang terus menerus atau kepahlawanan coba baca ayyam al-Arab dalam suku mereka. Inilah mungkin yang menjadi asbabun nujul dari salah satu ayat dalam Al-quran tentang penyair dan ihwalnya.[5]

C.      Syair dalam kehidupan bangsa Arab
Ada dua cara dalam mempelajari syair Arab dimasa Jahiliyah, kedua cara itu sangat besar faedahnya :
-          Mempelajari syair itu sebagai suatu kesenian yang sangat dihargai oleh bangsa Arab pada masa itu.
-          Mempelajari syair itu dengan maksud supaya kita dapat mengetahui adat istiadat dan budi pekerti bangsa Arab.
Syair adalah salah satu seni yang paling indah yang amat dihargai dan dimuliakan oleh bangsa Arab. Mereka sangat gemar berkumpul mengelilingi penyair-penyair untuk mendengarkan syair-syair mereka. Ada beberapa pasar tempat para penyair berkumpul, yaitu Pasar Ukaz, Majinnah, dan Zul Majas. Di pasar-pasar itu para penyair menyanyikan syairnya yang telah disiapkan, sehingga warga sukunya mengelilingi penyair-penyair yang menjadi kebanggaannya. Dipilihlah diantara syair-syair itu yang terbagus, lalu digantungkan di Ka'bah tidak jauh dari patung dewa-dewa pujaan mereka. Seorang penyair mempunyai kedudukan yang sangat amat tinggi dalam masyarakat bangsa Arab. Salah satu pengaruh dari syair pada bangsa Arab ialah bahwa syair itu dapat meninggikan derajat seorang yang tadinya hina, atau sebaliknya dapat menghina-dinakan seseorang yang tadinya mulia.
Sebagai contoh dapat kita sebutkan di sini Abdul 'Uzza Ibnu 'Amir, dia adalah seorang yang hidupnya melarat dan memiliki anak gadis yang banyak, akan tetapi tidak ada satu pun pemuda yang mau memperistri mereka. Kemudian dia dipuji oleh al A'sya seorang penyair ulung. Syair al A'sya yang berisi pujian itu tersiar kemana-mana. Dengan demikian menjadi masyhurlah Abdul 'Uzza itu, kini kehidupanya menjadi baik, maka berebutlah para pemuda untuk meminang anak gadisnya. Itulah syair dan demikianlah pengaruhnya, syair itu sebagai suatu seni yang telah menggambarkan kehidupan, budi pekerti, dan adat istiadat bangsa Arab.
Syair-syair dari penyair-penyair yang hidup di masa Jahiliyah menjadi sumber yang terpenting bagi sejarah bangsa Arab sebelum Islam. Syair-syair dapat menggambarkan kehidupan bangsa Arab di masa Jahiliyyah. Orang yang membaca syair Arab, akan melihat kehidupan bangsa Arab tergambar dengan jelas pada syair itu. Dia akan melihat padang pasir kemah-kemah tempat permainan dan sumber-sumber air. Dia akan mendengar tutur kata pemimpin-pemimpin laki-laki dan wanita. Dia akan mendengar bunyi kuda dan gemerincingan pedang. Syair itu akan mengisahkan kepadanya peperangan-peperangan, adat istidat dan budi pekerti bangsa Arab, dan banyak lagi hal-hal lain yang syair Arab Jahiliyah itu adalah sumber untuk mengetahuinya.[6]
Keistimewaan bangsa Arab adalah meraka mempunyai perhatian yang besar terhadap bahasa dan keindahan sastra, karena mereka mempunyai perasaan yang halus dan ketajaman penilaian terhadap sesuatu. Dua sifat ini menjadi faktor utama mereka untuk mempunyai kelebihan dan kemajuan dalam bahasa. Karena keindahan bahasa akan bersandarkan pada perasaan yang halus dan daya khayal yang tinggi. Dengan kedua sifat ini maka bangsa Arab dapat mengeluarkan segala yang bergejolak dalam jiwanya dalam bentuk gubahan syair yang indah. Hal ini pula berkenaan dengan peranan atau kedudukan penyair dalam masyarakat Arab. Seorang penyair yang hebat mampu membela kehormatan kaum dan keluarga kabilahnya.
Bangsa Arab menganggap betapa pentingnya peranan penyair, sampai mereka sering memperalat seorang penyair sebagai seorang yang dapat memberi semangat dalam perjuangan, memberi sokongan suara bagi seorang untuk dapat diangkat sebagai kepala kabilah, dan ada pula yang menggunakan mereka sebagai perantaraan untuk mendamaikan dua lawan yang saling bermusuhan, bahkan ada juga yang menggunakan penyair untuk meminta maaf dari seorang penguasa.
Di kalangan bangsa Arab banyak terdapat para penyair yang terkenal. Namun dari sekian banyak itu, yang paling terkenal hanya ada tujuh sampai sepuluh orang saja, sebab hampir sebagian besar dari hasil karya mereka masih utuh dan terjaga hingga kini. Seluruh hasil karya dari kesepuluh orang penyair itu, semuanya dianggap hasil karya syair yang terbaik dari karya syair yang pernah dihasilkan oleh bangsa Arab.
Hasil karya syair mereka terkenal dengan sebutan al-Muallaqad, yaitu yang tergantung, sebab setiap hasil karya syair yang paling indah di masa itu, pasti digantungkan di dinding Ka’bah sebagai penghormatan bagi penyair atas hasil karyanya. Dari dinding Ka’bah inilah nantinya masyarakat umum akan mengetahuinya secara meluas dan turun temurun.
Seluruh hasil karya syair yang digantungkan pada dinding Ka’bah selain dikenal dengan sebutan al-Muallaqad juga disebut al-Muzahabah yaitu yang ditulis dengan tinta emas. Sebab setiap syair yang baik sebelum digantungkan pada dinding Ka’bah, ditulis dengan tinta emas terlebih dahulu sebagai penghormatan terhadap hasil karya itu.[7]

D.  Tokoh-tokoh dan karyanya
Banyak sekali karya syair-syair yang terkenal dan bagus pada masa itu, tetapi ada muallaqad penyair Arab yang kualitas syairnya tingkat pertama pada masa itu. yakni Umrul Qais, Nagibah Adz Zibyzny, dan Zuhair bin Abi Sulma.[8]
1.      Umrul Qais
a.       Mengenal Umrul Qais
Umrul Qais adalah penyair Arab yang hidup pada 150 tahun sebelum hijrah. Dia dijuluki Al-Malik Ad Dhalil (raja dari segala raja penyair). Penyair ini berasal dari suku Kindah yang pernah berkuasa penuh di Yaman, karena itu penyair ini dikenal dengan penyair Yaman (Hadramaut). Umrul Qais seorang anak raja Yaman bernama Hujur Al-Kindy, Ibunya Fatimah binti Rabia’ah. Segi penyair ini sangat berpengaruh dalam kepribadian penyair ini, ia dibesarkan di Nejed dengan kehidupan dunia yang melimpah dan dalam lingkungan keluarga yang suka berfoya-foya. Kebiasaan buruknya penyair ini sering mabuk-mabukan, bermain cinta dan melupakan kewajibannya sebagai putra mahkota yang seharusnya mawas diri dan melatih diri memimpin masyarakat karena perangainya yang buruk ayahnya sering memarahinya dan akhirnya ia dibuang dan diusir oleh ayahnya dari Istana.
Selama dalam pembuangan, penyair ini mengembara ke segala penjuru jazirah Arab dan kelak pengembaraan inilah yang membawa pengaruh kuat dalam syairnya, karena dari pengalaman pengembaraan seluas itulah ia mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru baginya. Umrul Qais bergabung bersama orang-orang Badui, orang Badui ini sangat senang bergabung dengan Umrul Qais karena ia banyak harta dan pendukungnya.[9]
Ketika Umrul Qais sedang asyik berfoya foya, tiba-tiba datang kabar kematian ayahnya terbunuh ditangan Kabilah bani Asaf yang sedang memberontak kepada kekuasaan ayahnya. Kematian ayahnya itu menuntut Umrul Qais untuk kembali ke Nejed agar dapat membalas kematian orang tuanya. Panggilan itu tidak disambut baik oleh Umrul Qais, bahkan dengan sambil bermalas-malasan ia berkata: “dulu semasa kecilku aku dibuang, kini setelah dewasa aku dibebani oleh darahnya, biarkan saja urusan itu, sekarang adalah waktunya untuk mabuk-mabukan dan besok untuk menuntut darahnya.”
Namun tak lama kemudian penyair in berangkat menuju ke Nejed untuk menuntut balas kematiaan orang tuanya. Untuk melaksankan niatnya itu Umrul Qais terpaksa meminta bantuaan ke kabilah-kabilah Arab yang berada disekitarnya. Sehingga pertempuran ini berkecanuk lama dan akhirnya ia terdesak, melarikan diri menuju kekerajaan Romawi Timur (Bizantium) di Turki. Di tengah perjalanan penyair itu terbunuh oleh musuhnya dan dimakamkan di kota Angkara Turki.
b.      Karya Umrul Qais
Sebagian besar ahli sastra Arab berpendapat bahwa puisi Umrul Qais dapat digolongkan pada kelas tertingi dari golongan penyair Arab lainnya. Karena penyair ini banyak menyandarkan pada kekuatan daya khayalnya dan pengalamannya dalam mengembara, bahasanya sangat tinggi sekali dan isinya sangat padat. Umrul Qais dianggap orang pertama yang menciptakan cara menarik perhatian dengan jalan istifokus sohby yakni cara mengajak orang untuk berhenti pada puing reruntuhan bekas rumah kekasihnya (tempat yang berhubungan dengan kisah cinta) sekedar mengenang masa indah yang telah berlalu akan cintanya.
Memang cara ini sangat menarik sekali, bila digunakan dalam syair Tasbib/ghazal yaitu suatu bentuk atau jenis syair yang didalamnya banyak menyebutkan wanita dan kecantikannya, syair ini juga menyebutkan tentang kekasih, memuji atau merayu sang kekasih, juga membahas tempat tinggalnya dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kisah percintaan. Cara seperti ini sangat disenangi orang Arab (penyair Arab) dalam membuka setiap qasidahnya untuk perhatian orang. Umrul Qais juga dianggap sebagai penyair pertama dengan mensifati kecantikan seorang wanita dengan mengupamakannya dengan seekor kijang yang panjang lehernya, karena wanita yang panjang lehernya menandakan sebagai seorang wanita cantik dan rupawan.
Orang yang mempelajari puisi karya Umrul Qais dengan mendalam maka dia akan mengerti bahwa keindahan syairnya terletak pada caranya yang halus dalam syair ghazalnya. Ditambah dengan istirah/kata kiasan dan perumpamaan. Sehingga banyak orang beranggapan bahwa dialah yang menciptakan perumpamaan dalam syair Arab. Hanya saja kadang-kadang syairnya tidak luput dari perumpamaan yang cabul/porno terutama ketika membicarakan kaum wanita, tetapi perumpamaan ini tidak mengurangi nilai syairnya karena kadar kecabulannya tidak terlalu berlebihan. Disamping itu perumpamaan kecabulannya tersebut merupakan kebiasaan bagi setiap penyair Arab dalam mengekspresikan sesuatu secara singkat, jelas, dan padat.
Ada satu contoh dari syairnya yang menunjukan kelihaian penyair ini dalam menggambarkan suatu kejadian atau peristiwa dengan gayanya yang khas sehingga bayangan yang ada seperti benar-benar terjadi. Untuk itu penulis akan mengutip syairnya Umrul Qais yang mengisahkan kepada kita tentang sesuatu kesusahan atau kegelisahan yang dialaminya pada suatu malam hari sebagai berikut:

وليل كموج البحر أرخى سدوله # علي بأنوع الهموم ليبتل
فقلت له لما تمطى بصلبه # واردف اعجازا وناء بكلكل
اﻻايهاالليل الطويل اﻻ انجلى# بصبح وما اﻻء صباح منك بأمثل
فيا لك من ليل كان نجومه # بكل مغار الفتل شدت بيذ بل

Artinya: “Malam bagaikan gelombang samudra menyelimutkan tirainya padaku, dengan kesedihan untuk membencanaiku, aku berkata padanya kala ia menggeliat merentang tulang punggungnya dan siap melompat menerkam mangsanya, wahai malam panjang kenapa engkau tidak segera beranjak pergi yang digantikan pagi yang tiada pagi seindah kamu, Oh… malam yang gemintangnya, bagaikan terjerat ikatan yang kuat.”
Sebenarnya penyair ini akan mengutarakan betapa malang nasibnya. Dimana keresahan hatinya akan bertambah susah bila malam hari tiba. Karena pada saat itu dia merasakan seolah-olah malam sangat itu panjang sekali. Sehingga ia mengharapkan waktu pagi hari segera tiba, agar keresahannya akan berkurang, namun keresahan itu tidak jua berkurang walaupun pagi hari telah tiba. Contoh diatas merupakan bukti nyata akan kepandaian penyair ini dalam menggambarkan sesuatu keadaan. Sehingga keadaan atau peristiwa itu seakan-akan benar tejadi adanya.
Contoh diatas memberikan gambaran kepada kita, bagaimanakah penyair itu memberikan gambaran yang sangat besar akan keresahan melandanya dan dialaminya pada waktu itu, sehingga baik pada waktu malam hari maupun pagi hari keresahan itu tetap saja mengikutinya seperti seseorang yang selalu diikuti bayangannya ketika hendak menggerakan kakinya dalam sinaran bulan purnama di malam hari yang segelap lautan.
Rahasia keindahan syair ini adalah penyair tidak menjelaskan atau menceritakan keresahan yang dialaminya secara langsung. Bahkan ia memberikan perumpamaan terlebih dahulu dan suatu permisalan yang dekat dengan pengertian aslinya, kemudian penyair ini mengajak sang malam hari tuk untuk berbicara dan bercakap-cakap layaknya seorang manusia diajak bicara.
Syair ini adalah syair yang abadi, tak lekang dimakan zaman karena imajinasi yang sangat kuat/daya khayalnya yang tinggit, dan maknanya dalam, isi pada syair ini kondisonal/situasional yakni ketika seseorang dilanda keresahan, kegelisahan, banyak masalah yang diderita, dan lainya, ketika membaca dan mendalami juga menghayati kandungan syair ini ia akan menemukan sesuatu kesamaan rasa, kesamaan konflik atau penokohannya. Karena seperti yang disebutkan penulis diatas, penyair ini tidak menceritakan dengan pasti apa konflik yang terjadi keresahan/masalah-masalah yang terjadi.
Keindahan syairnya terletak pada caranya pemilihan kata atau diksinya yang halus dalam syair ghazalnya.walaupun hidup dalam keadaan geografis alam yang keras tetapi tak mempengaruhi kata-katanya yang halus dan lembut dalam syairnya itu. Ditambah dengan istirah/kata kiasan dan perumpamaan, sehingga banyak orang beranggapan bahwa dialah yang menciptakan perumpamaan dalam syair Arab. Walapun terkadang syairnya mengandung sifat kebadwian dalam ungkapan kering dan kasar, dengan makna-makna yang seram. Tetapi imajinasinya sangat kuat sekali, kadang terlihat dalam membayangkan suatu yang keemasan yang menampilkanya indah sekali, maknanya memukau dan menusuk lerung hati yang paling dalam, tasbib/nasibnya (pelukisannya) lembut selembut kain sutra, wasfnya (pelukisan, narasi) akrab seakrab orang arab yang menjamu tamunya, mudah diserap dan dipahami karena penciptaanya seindah indahnya menggunakan imajinasi yang kuat. Ada beberapa faktor mengapa tulisan, syairnya Umrul Qais bisa seperti itu yakni karena keadaan geografis wilayah yang ganas, pergaulannya dengan suku badui yang cendrung kasar tapi mungkin positifnya ia bisa mempunyai daya imajinasi yang kuat dan bebas mungkin karena bergaul dengan mereka yang notabene orang dan pikirannya bebas, terus yang terakhir keadaan psikologis dan sikis penyair ini pada masa usia masih beliau sudah mengalami guncangan yang cukup dahsyat, ia diusir dari surga dunianya yaitu istana ayahnya karena peringainya yang buruk.
Perlu diketahui latarbelakang penciptaan syair diatas menceritakan pengalaman dan kehidupan pribadi sang penyair itu sendiri. Pengalaman disini adalah pengalaman yang menyakitkan dan mengiris hatinya seperti kandas cintanya dengan sang kekasih Unaizah, keluarganya dibunuh dan kerajaan ayahnya runtuh oleh musuh, kalah dalam perang menuntut balas dendam kepada Bani Asaf, terus karena penyakit yang ia derita dan akhirnya sampai sang maut menjemput di kota Angkara Turki Bizantium waktu ingin meminta bantuan pada raja kekaisaran Romawi Timur (Bizantium).
Meskipun Umrul Qais dijuluki raja dari segala raja penyair tapi perlu diketahui orang Arab yang pertama kali menciptakan syair Arab ialah Muhalhil bin Rabiah Atthaghribi. ia dianggap menjadi orang pertama yang menciptakan syair arab, karena dari sebagian banyak syair bahasa arab yang ditemukan ialah hanya sampai zaman Muhalhil saja. Dari sekian banyak karya syair Muhalhil yang dapat diselamatkan hanyalah tiga puluh bait saja. Setelah zaman in barulah muncul penyair-penyair yang dipelopori oleh Umrul Qais dkk. Tak terbantahkan lagi pengaruh Umrul Qais dalam syair bahasa arab sangat kental, kendati Muhalhil atau orang arab sebelum Muhalhil sebagai pencetus tetapi sebagai penyair yang memberikan sumbangsih yang sangat besar, pengaruhnya abadi, dan banyak ditiru oleh generasi penyair masa jahiliah dan mungkin sampai sekarang generasi modern atau generasi selanjutnya yang akan mendatang.[10]

2.      Zuhair bin Abi Sulma
a.       Mengenal Zuhair bin Abi Sulma
Zuhair bin Abi Sulma berasal dari bani Ghathafan dan dibesarkan dari keluarga penyair. Sejak kecil penyair ini belajar syair Dari pamannya sendiri yang bernama Basyamah bin Shadir dan Aus bin Hujur. Karena itu penyair ini telah tekenal sejak masa kecil. Selain bakatnya sudah muncul dari muda. Penyair ini disenangi oleh segenap kaumnya karena kepribadiaan dan budi pekertinya yang tinggi. Beliau sangat terkenal dengan kesopanan kata-kata syairnya, imajinasi dan pemikirannya banyak menggunakan kata-kata hikmat dan pemikiran yang matang dan banyak orang yang menjadikan syairnya sebagai contoh hikmat dan pemikiran kebijaksanaan. Sehingga tidak aneh jika pendapatnya selalu diterima oleh kaumnya.
Tidak hanya oleh kaumnya pendapatnya bisa di terima bahkan para kabilah-kabilah Arab lainnya dan pemuka-pemukanya seperti Haram bin Sinan dan Harist bin Auf. Zuhair meminta kepada dua pemuka kabilah tadi untuk memberikan 3000 unta kepada pemuka kabilah itu sebagai persyaratan perdamaian karena kedua suku kabilah itu sudah lama berperang hampir 40 tahun dan kedua suku itu sangat mengidam-ngidamkan perdamain itu. Penyair itu turut andil dalam perdamain itu dan kedua pemuka kabilah tadi menyanggupinya karena kelihaian Zuhair dalam memainkan lantunan Syairnya yang memuji kedua pemuka kabilah tersebut.
b.      Karya Zuhair bin Abi Sulma
Tidak ada pertentangan dari pengamat, kritikus puisi bahkan para ahli sastrapun sepakat bahwa dalam hal menempatkan Zuhair sebagai salah seorang dari tiga tokoh terkemuka penyair Arab yang mengungguli para penyair selain mereka yakni Umrul Qais dan Nagibah. Untuk lebih mengenal sosok penyair ini mari kita lihat petikan bait syairnya yang banyak mengandung kata hikmat yang dapat dijadikan petuntuk bagi kehidupan.

سئمت تكاليف الحياة ومن يعش # ثمانين حولا لاأبالك يسأم
واعلم ما في اليوم ولأمس قبله # ولكننى عن علم ما في غد عم
رأيت المنايا خبط عشواء من تصب # تمته ومن تهتئ يعمرفيهرم
ومن يجعل المعروف من دون عرضه # يفره ومن لايتق الشتم يشتم
ومن يوف لا يذمم ومن يهد قلبه # اء لى مطمئن البرلايتجمجم
ومن هاب اسباب المنايا ينلنه # واء ن يرق اسباب السماء بسلم
ومن يجعل المعروف في غير أهله # يكن حمده ذما عليه ويندم
لأن لسان مرء مفتاح قلبه # اء ذا هو أبد ما يقول من الفم
لسان الفتى نصف ونصف فؤاده # فلم يبق اءلا صورة اللحم والدم

Artinya : “Aku telah jemu dengan beban hidup, dan barang siapa yang berumur sampai delapan puluh tahun, pasti ia akan jemu dengan beban hidupnya, aku dapat mengetahui segala yang terjadi pada hari ini dan kemarin tetapi aku tetap tak tahu akan hari esok, aku melihat maut itu datang tanpa permisi terlebih dahulu barang siapa yang didatangi pasti mati dan siapa yang luput diakan lanjut usia, barang siapa yang selalu menjaga kehormatannya maka di akan terhormat dan siapa yang tidak menghindari cercaan orang di akan tercela, barang siapa yang menempati janji akan tercela barang siapa yang terpimpin hatinya maka ia akan selalu berbuat baik, barang siapa yang takut mati pasti dia akan bertemu juga dengan maut walaupun ia naik ke langit dengan tangga (melarikan diri), barang siapa orang yang menolong tidak berhak ditolong maka dia akan menerima resikonya dan akan menjadikan penyesalan baginya.”
Petikan-petikan bait Syair diatas kebanyakan mengandung kata-kata hikmat dan dengan imajinasi juga pemikiran yang mendalam sehingga penyair ini dianggap sebagai orang pertama yang dalam menciptakan kata hikmat dalam syair Arab dan kelak akan diikuti oleh penyair lainnya seperti: Salih bin Abdul Kudus, Abu Thahilah, Abu Tamam, Mutanabby dan Abul Ala’ Ma’ary
Kalau kita perhatikan lebih dalam puisi diatas, hampir serupa dari Amsal (pribahasa) dan kata hikmah. Merupakan suatu hal yang menarik memadukan prosa dan syair pada masa itu, melihat banyak sekali penyair jahili yang kurang mendalaminya beliau merupakan penyair pertama yang membuka pintu masuknya kata-kata hikmah dan amsal kedalam puisi Arab. Syairnya singkat mudah dipahami namun isinya padat dan mada’hnya bagus menjauhi kebohongan, selalu memuji keadaan sebenarnya, ia bersyair selalu memuji orang dengan benar sebenar benarnya maksudnya kebenaran sifat yang dimiliki orang itu memang sudah teruji, terlebih syair diatas ini bertemakan dan menceritakan kehidupan seseorang harus hidup terhormat, menepati janji, suka menolong itu merupakan karakteristik orang Arab yang hidup pada zamannya itu yang telah diihatnya dan dituangkan dalam syairnya oleh beliau.
Dari pemilihan kata/diksinya sangat baik sekali. Kata-katanya sopan sedikit sekali yang menggunakan kata-kata buruk. Oleh karena itu puisinya sangat bersih dan sedikit sekali ada cercaan didalamnya. Jauh dari ta’kid /komplikas kata dan maknanya.[11]
3.      Nabigah Adz-Zibyanyany
a.       Mengenal Nabigah Adz-Zibyanyany
Nama aslinya penyair ini adalah Abu Umamah Ziyad Bin Muawiyah. Ia dipangil Nabigah karena sejak muda pandai bersyair kata Nabigah sendiri berarti pandai bersyair, ia merupakan salah satu tokoh terkemuka para penyair arab jahili dan dewan hakim mereka dipasar ukaz. Ia penyair terbaik dalam menampilkan diksi/pemilihan kata, jelas dalam mengemukakan makna, dan lembut dalam permohonan maaf.
Hampir seluruh umur hidupnya ia habiskan dikalangan keluarga raja Hira dan memuji mereka serta lama mendapingi Nu’man bin Al-Mundzir. Sehingga ia dijadikan kawan dan dimanjakan dengan kemewahan yang ada. Pernah diriwayatkan penyair ini dikalangan raja Hirah selalu memakai bejana dari emas dan perak. Hal ini tak lain untuk menujukan betapa pentingnya kedudukan beliau disisi raja Hira.
b.      Karya Nabigah Adz-Zibyanyany
Sebagian besar ahli sastra arab mendudukan syair karya nabigoh pada dereta ketiga setelah Umrul Qais dan Zuhair bin Abi Sulma. Hanya saja penilaian itu sangat relatif sekali, karena pendirian seseorang berbeda tentunya. Namun demikian karya syairnya sangat tinggi nilainya, karena pribadi penyair ini sangat berbakat dalam bersyair. Maka tidak heran jika penyair ini diangkat sebagai dewan juri dalam setiap perlombaan membaca puisi. Yang berdeklamasi setiap tahun di pasar Ukaz.
Para pengamat puisi Arab menempatkan Nabigah Adz-Zibyanyany Sebagai salah satu tokoh penyair Arab yang pertama. Bahkan sebagian dari mereka menjadikan puisinya menjadi titik puncak yang dicapai oleh syair Arab dari segi keindahan dan keharmonisan komposisinya. Dan banyak dari kalangan periwayat puisi yang memasukannya kedalam jajaran penyair muallaqot yang syairnya ditulis dengat tinta emas dan digantungkan di Ka’bah. Puisinya teristimewa dengan keindahan kata, kejelasan makna, keindahan susunan dan sedikit kamuflase, sehingga orang yang suka kelembutan dari kalangan penyair seperti Jarir mengatakan bahwa ia adalah penyair Arab yang paling piawai. Ketergiurannya untuk mecari penghidupan dengan syair, justru membuka pemikiran baru dalam jenis puisi madhnya (pujian) serta melakukan perluasan dan perdalaman dalam puisi itu, sehingga ia mampu memuji dengan sesuatu yang kontradiktif;

فاءنك شمس و الملوك كواكب # اء ذا طلعت لم يبد منهن كوكب
Artinya: “sesungguhnya engkau adalah matahari, sedangkan para raja yang lain dalah bintang-bintang, bila kau terbit tak ada sayu bintangpun yang berani menampakan diri.”
Latar belakang syair ini pada suatu hari Nabighah hendak memuji raja Nu’man bin Munzir seorang yang paling disukai olehnya. Waktu itu ia melihat matahari yang sedang tebit dan terang. Oleh karena itu, raja Nu’man itu diumpamakan dalam Syairnya sebagai matahari yang terbit, jikalau matahari itu sedang terbit maka sinarnya itu akan mengalahkan senar bintang dimalam hari yang diibaratkan dengan raja-raja lain singkatnya ketika kekuasaan raja Nu’man datang maka kekuasaan raja-raja lain akan menghilang seperti bintang dimalam hari yang lenyap karena munculnya raja Nu’man sebagai matahari terbit yang terbit/berkuasa disiang hari.
Dalam syair diatas dia berimajinasi, mengkhayalkan dan perumpamaan sesuatu yang paling tinggi di alam sekitarnya. Maka yang dilihat hanyalah matahari. Karena penyair itu memisalkan raja itu bagaikan matahari yang terbit dari ufuk timur, bila matahari itu sedang terbit maka ribuan bintang yang menghiasi langit tidak akan tampak sinarnya lagi. Jadi penyair ini seolah olah berkata bahwa raja yang dipujinya itu adalah raja yang paling mulia dan lebih agung dari semua raja yang lain akan sirna seperti malam yang sirna oleh datangnya matahari yang menjadi siang.
Indah sekali syair bait diatas kendati kata simpel tetapi makna luas, ketika hendak menggambarkan kekuasaan sang raja, penyair ini tidak lagi memberikan sesuatu permisalan saja. Bahkan dia menyebutkan bahwa diri raja pujaannya itu adalah matahari itu sendiri yang terbit diufuk timur sehingga segala sinar yang dating dari segala bintang dapat sirna. Letak keindahan syair ini ialah penyair ini tidak menyebutkan sang raja seperti matahri bahkan ia sendiri adalah matahari itu sendiri.
Dari segi diksi/pemilihan kata dan struktur bahasanya sederhana dan indah, mudah dipahami oleh semua orang juga harmonis lebih akrab dengan pembaca atau penikmat syair, kata-katanya lembut sehingga wajar saja ia dekat pembesar negeri, menjadi dewan juri perlombaan syair di pasar Ukaz tiap tahun dan disukai banyak orang. Keistimewaan penyair ini adalah puisinya lebih indah dan kata-katanya lebih mantap, bahasanya sangat sederhana sehingga dapat mudah dimengerti semua orang. Para penyairpun tidak jarang meniru cara Nagibah maupun kata-katanya dalam bersyair.[12]











BAB III
PENUTUP

Simpulan
Syair adalah ucapan atau susunan kata yang fasih yang terikat dengan rima (pengulangan bunyi) dan mantra (unsure irama yang berpola tetap) dan biasanya mengungkapkan imajinasi yang indah dan berkesan memikit. Lahirnya syair berawal dari kebiasan aktivitas orang-orang Arab yang menjadi sebuah manifestasi yang begitu banyak diabadikan di dalam puisi. Sehingga syair pada waktu itu merupakan senjata yang bisa membuat hasrat manusia berdebar, tersanjung dan memuji orang agar orang yang mendengarkannya merasa terbuai.
Banyak sekali karya syair-syair yang terkenal dan bagus pada masa itu, tetapi penyair Arab yang kualitas syairnya tingkat pertama pada masa itu adalah Umrul Qais, Nagibah Adz Zibyzny dan Zuhair bin Abi Sulma.







DAFTAR PUSTAKA

Buku:
Akhmad Muzakki, Kesusastraan Arab; Pengantar Teori dan Terapan, Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2006.
Ali Al-Mudhar, Yunus dan H Bey, Arifin, Sejarah Kesustraan Arab, Surabaya: PT Bina Ilmu, 1983.
Ali dan Adang Affandi, Studi Sejarah Islam, Jakarta: Binacipta, 1995.
Bunyamin Bahrum, Sastra Arab Jahili (Pra Islam) terjemahan dari Al-Adab Al-Arabiyah Al-Jahiliyah, Yogyakarta: Abad Perss, 2003.
Wargadinata, Wildana dan Fitriani, Laily, Sastra Arab dan Lintas Budaya, Malang: UIN Malang Press, 2008.

Artikel:
Humaini, Penyiar Arab zaman Jahiliyah, himasaunpad.blogspot.com/2010/08/penyair-arab-zaman-jahiliyah.html
Madiun, Kondisi Sosial Politik dan Agama Arab Pra Islam, http://indonesia-admin.blogspot.com/2010/02/kondisi-sosial-politik-dan-agama arab.html#.UbnZMHL4QgA
Zakii Aidia, 2012, Muallaqat yang tersisa dari sejarah ada pada syair, http://zakiiaydia.com/2012/07/29/muallaqat-yang-tersisa-dari-sejarah-ada-pada-syair/


[1] Akhmad Muzakki, Kesusastraan Arab; Pengantar Teori dan Terapan, (Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2006), h. 41
[2] Ibid, h. 42
[3] Wargadinata, Wildana dan Fitriani, Laily, Sastra Arab dan Lintas Budaya, (Malang: UIN Malang Press, 2008), h. 25
[4] Ali dan Adang Affandi, Studi Sejarah Islam, (Jakarta: Binacipta, 1995), h. 45-46
[5] Zakii Aidia,, 2012, Muallaqat yang tersisa dari sejarah ada pada syair, http://zakiiaydia.com/2012/07/29/muallaqat-yang-tersisa-dari-sejarah-ada-pada-syair/ diakses 11/06/2013.
[6] Madiun, Kondisi Sosial Politik dan Agama Arab Pra Islam, http://indonesia-admin.blogspot.com/2010/02/kondisi-sosial-politik-dan-agama-arab.html#.UbnZMHL4QgA diakses 12/06/2013.
[7] Ali Al-Mudhar, Yunus dan H Bey, Arifin, Sejarah Kesustraan Arab, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1983), h. 89-90
[8] Humaini, Penyiar Arab zaman Jahiliyah, himasaunpad.blogspot.com/2010/08/penyair-arab-zaman-jahiliyah.html diakses 12/06/2013.
[9] . Wargadinata, Wildana dan Fitriani, Laily, Op. Cit., h. 27
[10] Ali Al-Mudhar, Yunus dan H Bey, Arifin, Op. Cit., h. 91
[11] Bunyamin Bahrum, Sastra Arab Jahili (Pra Islam) terjemahan dari Al-Adab Al-Arabiyah Al-Jahiliyah, (Yogyakarta: Abad Perss, 2003), h. 56
[12] Muzakki, Ahmad, Op. Cit., h. 44-45

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar