Jumat, 22 Agustus 2014

Makalah John Maynard Keynes



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
John Maynard (JM) Keynes adalah seorang tokoh pemikir ekonomi dan keuangan Inggris. John Maynard Keynes dilahirkan di Cambridge, Inggris pada tanggal 5 Juni 1883. Keynes dibesarkan pada zaman Ratu Victoria. Pada waktu masih sekolah Keynes memang cemerlang. Ketika Keynes berusia empat setengah tahun ia sudah memikirkan arti bunga dilihat dari segi ekonomi. Pada umur enam tahun ia sudah ingin mengetahui bagaimana kerja otak manusia. Ketika Keynes berusia tujuh tahun, bagi ayahnya yang juga ahli ekonomi yang bernama John Neville Keynes yang juga terkenal, Keynes merupakan seorang teman yang menyenangkan sekali, Keynes sangat sayang kepada ibunya.
Nama John Maynard Keynes adalah sebuah nama Inggris yang kuno. Keynes ialah seorang tradisionalis. Kecakapan serta sifat-sifat baiknya diperoleh secara turun temurun. Ia menjadi dosen dalam mata kuliah ilmu ekonomi dan keuangan di Cambridge. Dunia sejarah ilmu ekonomi semakin sempurna karena munculnya berbagai pemikiran mengenai ekonomi dan keuangan yang baru dari berbagai hasil pemikiran J.M, Keynes yang dinilai para ahli ekonomi sebagai ekonomi modern. Kemudian ia dikenal sebagai tokoh yang menyebabkan lahirnya mazhab baru yakni mazhab Keynes.[1]


B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana pemikiran-pemikiran J.M. Keynes?
2.      Apa saja karya-karya J.M. Keynes?
3.      Bagaimana kritikan J.M. Keynes terhadap teori klasik?
4.      Bagaimana peran pemerintah dalam perekonomian saat itu?















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pemikiran J.M. Keynes
John Maynard Keynes seorang ekonomi asal Inggris yang terkenal dengan model ekonomi modern yang diusungnya. Beliau seorang penganut teori ekonomi merkantilis, dimana kebanyakan teori yang dikeluarkannya difokuskan pada upaya pemerintah negara bersangkutan untuk menjaga kestabilan ekonominya. Beliau merupakan seorang pegawai di Badan Keuangan Inggris yang mencetuskan beberapa pemikiran mengenai sistem perekonomian modern yang hingga sekarang karyanya digunakan sebagai pedoman ekonomi dunia internasional. Idenya berawal pada akhir perang Dunia I, yang diawali dengan ketidak setujuan Keynes terhadap hukuman yang dijatuhkan oleh Liga Bangsa- Bangsa terhadap Jerman atas segala kerugian perang yang berujung pada pelunasan seluruh kerugian dan hutang negara Jerman terhadap negara- negara pemenang Perang Dunia I termasuk Inggris.
Keynes beranggapan bahwa hukuman tersebut akan sulit ditepati dan dipenuhi oleh Jerman dan justru hal tersebut membuat perekonomian negara- negara lain runtuh dan Jerman sendiri juga akan sengsara memenuhi hukuman tersebut. Hal ini kemudian terbukti dengan jatuhnya perekonomian Eropa dan terjadinya Perang Dunia II. Keynes beranggapan bahwa produksi yang terus menerus dilakukan Jerman sebagai upaya untuk membayar hutang perang semakin menyengsarakan industrinya sendiri. Negara juga diperlukan untuk melakukan upaya investasi sebagi upaya preventif agar ekonominya tidak collapse. Dari sinilah kemudian Keynes dikenal sebagi ekonom modern yang mengajukan isu investasi oleh negara.
Sebagai seorang ekonom yang mendasarkan teorinya pada teori merkantilis, Keynes menekankan segala bentuk upaya pen-stabilan ekonomi negara pada kebijakan- kebijakan pemerintah. Keynes menyebutkan bahwa pemerintah dalam rangka untuk menghindari dan menangani krisis yang dapat sewaktu- waktu menyerang, perlu melakukan suatu bentuk investasi dalam bentuk fasilitas publik.
Namun hal ini tidak selamanya berhasil, karena penambahan nilai investasi yang tidak diikuti dengan peningkatan kemampuan konsumsi secepat proses produksi juga akan menimbulkan krisis perekonomian. Sehingga hal ini perlu diseimbangkan dengan kekuatan ekonomi yang sedang berlangsusng dalam suatu kurun waktu tertentu. Hubungan antara investasi dan konsumsi ini digambarkan oleh Keynes dalam suatu siklus model ekonomi yang dimana keduanya berakar dari pendapatan. Di lain pihak, Keynes juga mencoba menjelaskan mengenai alur investasi pemerintah yang kemudian bergerak menuju arah tabungan (saving). Saving dapat disebut sebagai investasi ketika hal tersebut dikaitkan dengan bunga. Sehingga jika tabungan mencukupi untuk melakukan investasi, maka bunga akan cenderung turun dan dapat menghasil suatu bentuk investasi baru yang menguntungkan. Namun jika tabungan tidak dapat memenuhi syarat investasi, maka bunga akan naik dan cenderung menarik minat masyarakat untuk menyimpan uangnya.
Di lain hal, Keynes juga berpendapat mengenai pentingnya suatu negara untuk terlibat dalam organisasi ekonomi dan perdagangan internasional, seperti International Monetary Fund (IMF) dan World Bank. Hal tersebut bagi Keynes dianggap menguntungkan negara karena dengan keterlibatan suatu negara dalam organisasi tersebut dapat membantu secara langsung perekonomian negara yang bersangkutan jika suatu saat mengalami krisis. Oleh sebab itu, tidak heran bahwa Keynes juga merupakan salah satu ekonom yang setuju terhadap pembentukan sistem moneter global, yakni Bretton Woods System. Sistem inilah yang kemudian membawa perubahan besar bagi kondisi dan sistem perekonomian dunia. Selain itu, Keynes juga menyarankan akan adanya kebijakan pendapatan (income policies). Hal tersbut kemudian dihubungkan pada upaya negara untuk mencapai kondisi full employment. Hal tersebut disebutkan oleh Keynes dapat dilakukan melaui perubahan status perusahaan swasta menjadi suatu perusahaan atas nama negara. Disini dapat terlihat bahwa Keynes mendukung penuh otoritas negara dan pemerintah dalam mengatur ekonomi di negaranya. Perubahan status ini dimaksudkan agar negara dapat lebih dapat leluasa dalam mengatur kebijakan yang dikeluarkan perusahaan sehingga dapat menguntungkan rakyat secara keseluruhan. Melalui hal inilah negara dapat menciptakan full employment. Sama seperti para ilmuwan lainnya, Keynes juga menuai kritik dari para pemikir ekonomi lainnya. Hal tersebut terkait dengan pendapat Keynes yang mengatakan bahwa inflasi sesungguhnya bukan merupakan masalah dalam bagian ekonomi, namun inflasi lebih cenderung menjadi persoalan dalam bidang politik. Oleh karena pandangan ini, Keynes tidak terlalu menyoroti persoalan inflasi sebagai suatu hal yang perlu diatas melaui upaya ekonomi.[2]
B.     Karya-karya Keynes
Sebagai seorang pakar ekonomi yang ulung, ia telah menulis banyak buku yaitu:
  • Tahun 1913 ia menulis: Indian Currency and Finance, yang menjelaskan mengenai masalah moneter.
  • Tahun 1919 ia menulis: The Economic Consequences of the Peace. Dalam buku ini ia mengkritik cara-cara yang digunakan oleh negara yang menang perang dunia pertama dalam menekan negara-negara yang kalah perang. Negara pemenang perang menekan negara yang kalah dengan syarat pembayaran utang yang berat. Ia berasumsi bahwa hal itu dapat menimbulkan rasa marah dan dendam dari masyarakat yang kalah perang.
  • Tahun 1922 ia menulis: A Revision of The Treaty.
  • Tahun 1923 ia menulis: A Tract on Monetary Reform
  • Tahun 1930 ia menulis: A Treatis on Money. Buku yang terdiri dari dua jilid ini secara berturut-turut membahas teori-teori murni tentang uang dan penerapannya dalam perekonomian. Dalam hal ini perlu dicatat, dalam beberapa bukunya yang terbit sebelum The General Theory, Keynes masih berada dalam jalur pemikiran klasik dan neo klasik. Akan tetapi jalur ini mulai ditinggalkan saat ia menulis The General Theory.
  • Tahun 1936 ia menulis: The General Theory of Employment, Interest, and Money. Buku ini ditulis sebagai reaksi terhadap depresi besar-besaran yang terjadi tahun 30-an yang tidak berhasil dipecahkan dengan metode klasik dan neo klasik.[3]
C.    Kritikan Keynes terhadap Teori Klasik
Kaum klasik percaya bahwa perekonomian yang dilandaskan pada kekuatan mekasnisme pasar akan selalu menuju keseimbangan (equilibrium). Dalam posisi keseimbangan, kegiatan produksi secara otomatis akan menciptakan daya beliu untuk membeli barang-barang yang dihasilkan. Daya beli tersebut diperoleh sebagai balas jasa atas faktor-faktor produksi  seperti upah, gaji, suku bunga, sewa dan balas jasa dari faktor-faktor produksi lainnya[4]
Dalam posisi keseimbangan tidak terjadi kelebihan maupun kekurangan permintaan. Ketidakseimbangan (disequlibrium) dinilai kaum klasik sebagai suatu yang sifatnya sementara. Nanti akan ada ada suatu taangan tak terlihat ( invisble hand) yang akan membawa perekonomian kembali pada posisi keseimbangan.
Kaum klasik juga percaya bahwa dalam keseimbangan semua sumber daya , termasuk tenaga kerja, akan digunakan secara penuh ( full-employed).
Jadi, dalam pasar persaingan sempurna mereka mau bekerja pasti akan memperoleh pekerjaan. Pengecualian berlaku bagi mereka yang memilih-milih pekerjaan atau tingkat upah yang tidak sesuai. Kedua hal tersebut dinilai oleh kaum klasik sebagai pengangguran sukarela (voluntary unemployment) .
Kaum klasik meyakini bahwa setiap barang yang diproduksi akan selalu diiringi oleh permintaan. Sesuai dengan teori Say, “setiap perusahaan berlomba-lomba menghasilkan barang- barang dan jasa sebanyak-banyaknya”.
Teori Say yang mengatakan bahwa “penawaran akan menciptakan permintaannya sendiri”  dikritik oleh Keynes sebagai suatu kekeliruan. Dalam kenyataannya,  biasanya permintaan lebih kecil daripada penawaran, hal ini dikarenakan tidak semua pendapatan masyarakat dilakukan untuk konsumsi, sebagiannya akan ditabung. Dengan demikian , permintaan efektif biasanya lebih kecil dari total produksi. Walaupun kekurangan ini bisa di eliminasi dengan menurunkan harga-hrga, tetap saja permintaan lebih kecil dari penawaran.  Inilah yang terjadi pada tahu 30-an saat perusahaan berlomba-lomba berproduksi tanpa kendali. Dipihak lain, daya beli masyarakat terbatas. Akibatnjya banyak stock yang menumpuk. Sehingga sebagian perusahaan mengurangi produksi bahkan sebgian melakukan rasionalisasi, yaitu melakukan pengurangan produksi dengan mengurangi jumlah pekerja.
Tindakan rasionalisasi ini menyebabkan sebagian pekerja menganggur, sehingga orang yang menganggur tidak mendapatkan pendapatan. Akibatnya pendapatan masyarakat menjadi turun, daya beli masyarakat juga turun , kegiatan produksi macet, dan terjadi kemerosotan ekonomi (depresi ). Sejak itu, masyarakat mulai curiga bahwa ada yang salah dengan teori klasik dan neo-klasik yang berlaku secara umum pada saat itu. Menurut keynes dalam pandangan klasiknya, produksi akan selalu meciptakan permintaannya sendiri hanya berlaku untuk perekonomian tertutup sederhana.[5]
D.    Peran pemerintah dalam perekonomian
Dari hasil pengamatannya tentang kejadian depresi ekonomi pada awal 30-an Keynes merekomendasikan agar perekonomian tidak diserahkan begitu saja pada mekanisme pasar. Hingga batas tertentu peran pemerintah justru diperlukan. Misalnya, kalau terjadi pengangguran, pemerintah bisa memperbesar pengeluarannya untuk proyek-proyek padat karya. Dengan demikian, sebagian tenaga kerja yang menganggur bisa bekerja, yang akhirnya bisa meningkatkan pendapatan masyarakat. Kalau harga-harga naik cepat, pemerintah bisa menarik jumlah uang beredar dengan mengenakan pajak yang lebih tinggi. Inflasi yang tak terkendali pun tidak sampai terjadi. Dalam situasi terjadi gerak gelombang kegiatan ekonomi, pemerintah dapat menjalankan kebijakan pengelolaan pengeluaran dan pengendalian permintaan efektif dalam bentuk “kontra-siklis” atau “anti-siklis”.
Dari berbagai kebijakasanaan yang dapat di ambil, Keynes lebih sering mengandalkan kebijaksanaan fiskal. Dengan kebijaksanaan fiskal pemerintah bisa mempengaruhi jalannya perekonomian. Langkah ini dilakukan dengan menyuntikkan dana berupa pengeluaran pemerintah untuk proyek-proyek yang mampu menyerap tenaga kerja. Kebijaksanaan ini sangat ampuh dalam meningkatkan output dan memberantas pengangguran, terutama pada situasi saat sumber-sumber daya belum dimanfaatkan secara penuh.
Apakah Keynes tidak percaya pada mekanisme pasar bebas sesuai  doktrin laissez faire-laissez passer klasik? Apakah ia tidak yakin dengan anggapan klasik bahwa perekonomian akan menemukan jalannya sendiri menuju keseimbangan? Keynes sebetulnya percaya tentang semua hal yang dikemukakan oleh kaum klasik tersebut. Akan tetapi, Keynes menilai bahwa jalan menuju keseimbangan dan full-employment tersebut sangat panjang. Kalau ditunggu mekanisme pasar (lewat tangan tak kentara) yang akan membawa perekonomian kembali pada posisi keseimbangan, dibutuhkan waktu yang sangat lama. Keynes pernah menulis: “dalam jangka panjang kita akan mati!” (In the long run we’re all dead!). jadi, satu-satunya cara untuk membawa perekonomian kea rah yang diinginkan seadainya ia “lari dari posisi keseimbangan”’ demikian uraian Keynes lebih lanjut, ialah lewat intervensi atau campur tangan pemerintah.
Demikianlah, kalau kaum klasik pada umumnya menganggap tabu campur tangan pemerintah. Bagi Keynes, campur tangan pemerintah merupakan keharusan. Campur tangan pemerintah terutama diperlukan kalau perekonomian berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Kalau diamati, sepertinya Keynes sependapat dengan Marx yang mengatakan bahwa sistem ekonomi klasik tidak bebas dari fluktuasi, krisis pengangguran dan sebagainya. Marx berusaha menghancurkan sistem kapitalis dan menggantikannya dengan sistem sosialis. Namun sebaliknya, Keynes justru ingin menyelamatkan sistem liberal tersebut.[6]




BAB III
PENUTUP
Simpulan
Teori Keynes adalah suatu teori ekonomi yang didasarkan pada ide ekonom Inggris abad ke-20 yaitu John Maynard Keynes. Teori ini mempromosikan suatu ekonomi campuran, di mana baik negara maupun sektor swasta memegang peranan penting. Kebangkitan ekonomi Keynes menandai berakhirnya ekonomi laissez-faire, suatu teori ekonomi yang berdasarkan pada keyakinan bahwa pasar dan sektor swasta dapat berjalan sendiri tanpa campur tangan negara.
Teori ini menyatakan bahwa trend ekonomi makro dapat mempengaruhi perilaku individu ekonomi mikro. Berbeda dengan teori ekonom klasik yang menyatakan bahwa proses ekonomi didasari oleh pengembangan output potensial, Keynes menekankan pentingnya permintaan agregat sebagai faktor utama penggerak perekonomian, terutama dalam perekonomian yang sedang lesu. Ia berpendapat bahwa kebijakan pemerintah dapat digunakan untuk meningkatkan permintaan pada level makro, untuk mengurangi pengangguran dan deflasi. Jika pemerintah meningkatkan pengeluarannya, uang yang beredar di masyarakat akan bertambah sehingga masyarakat akan terdorong untuk berbelanja dan meningkatkan permintaannya (sehingga permintaan agregat bertambah). Selain itu, tabungan juga akan meningkat sehingga dapat digunakan sebagai modal investasi, dan kondisi perekonomian akan kembali ke tingkat normal. Kesimpulan utama dari teori ini adalah bahwa tidak ada kecenderungan otomatis untuk menggerakan output dan lapangan pekerjaan ke kondisi full employment (lapangan kerja penuh).


DAFTAR PUSTAKA

·         Deliarnov, Perkembangan Pemikiran Ekonomi, Jakarta: PT Raja Grafindo, 2007.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar