Jumat, 22 Agustus 2014

Ilmu Falak (Astronomi)



Ilmu falak (Astronomi)

Kaum muslimin memiliki modal besar dalam mengembangkan ilmu falak. Mereka telah berhasil menjadikan satu aliran-aliran bintang yang dianut masyarakat Yunani, Hindu, Persia, Kaldan, dan Arab Jahiliyah.
            Ilmu bintang yang memegang peranan penting dalam menentukan garis politik para khalifah dan para amir, yang memdasarkan perhitungan kerjanya pada peredaran bintang.
            Di antara para sarjana Ilmu Falak dan Ilmu Bintang yang termasyur, yaitu:
1.      Abu Ma’syar al-Falaky (wafat 272 H), yaitu Ja’far bin Umar al-Falaky, yang terkenal dengan nama Abu Ma’syar al-Falaky. Banyak mengarang buku, di antaranya Isbat al-Ulum, Haiat al-Falak.
2.      Jabir Batany (wafat 319 H), yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Jabir al-Batany al-Hiranya ash-Shaby, yang telah menetapkan letak bintang. Beliau telah menciptakan alat peneropong bintang yang ajaib. Kitabnya yang terkenal Kitab al-Masecuite Rifat Mathli Buruj Baina Arabaik Falak.
3.      Abu Hasan (277-352 H), yaitu Abu Hasan Ali bin Abi Abdillah Harun bin Ali. Beliau sarjana ilmu bintang yang terbesar pada masanya.
4.      al-Biruny (wafat 440 H), yaitu Muhammad bin Ahmad Al-Biruny. Beliau ahli ilmu Bintang yang besar dalam perjalanan sejarah. Banyak mengarang buku, diantaranya al-Qanun al-Mas’udi fi al-Hai’ah wa al-Nujum (hukum mas’udi tentang aspek kelangitan dan bintang-bintang). Ia berhasil menghitung garis bujur beberapa kota berdasarkan pengamatan gerhana. Ia mengambil kesimpulan bahwa bumi berputar mengelilingi sumbunya, enam ratus tahun mendahului Galileo. Buku lain al-Buruni, al-Tafhim li Awa’il Sina’ah al-Tanjim, meringkas seluruh karyanya di bidang Astronomi dan Matematika.
5.      Al-Farghani (Alfaganus sekitar tahun 860) menulis kitab Ushul al-Falak (prinsip-prinsip astronomi) dan Jawawi’ ilm al-Nujum wa Ushul al-Harakahal-Samawiyyah (penjelasan lengkap tentang bintang dan prinsip-prinsip gerakan langit). Buku terakhir diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin pada tahun 1493 dan menjadi buku rujukan penting Copernicus dalam menyusun teorinya.
6.      Al-Battani (Albatanius, 859-929) brsama Sabit bin Qurrah (836-901) merupakan penerus al-Farghani. Mereka meneruskan pengamatan di Observatorium yang di bangun oleh Khalifah al-Makmun. Al-Battani menulis kritik terhadap dogma Plolemamaeus tentang diamnya titik Apogee matahari dalam bukunya, Syarh al-Maqalat al-Arba’ li Batlamius. Ia juga menulis buku Zij al-Sabi dalam bahasa Latin pada awal abad ke 12 M. ia juga menulis buku Miqdad al-Ittishalat.[1]



[1] Drs. Fadil SJ.,M. Ag, Pasang Surut Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah, (Malang:UIN-Malang Press, 2008, h. 182-184.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar