Jumat, 22 Agustus 2014

BELAJAR



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Belajar adalah key term, istilah kunci yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan.[1] Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya pendidikan, misalnya psikologi pendidikan dan psikologi belajar. Karena demikian pentingnya arti belajar, maka bagian terbesar upaya riset dan eksprimen psikologi belajar pun diarahkan pada tercapainya pemahaman yang lebih luas dan mendalam mengenai proses perubahan manusia itu.[2]

B.       Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian belajar?
2.      Apa saja teori-teori belajar?
3.      Apa saja jenis-jenis belajar?


BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Belajar
Sebagian orang beranggapan belajar adalah  semata-mata mengumpulkan atau menghafal fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi/materi pelajaran. Orang yang beranggapan demikian biasanya akan segera nerasa bangga ketika anak-anaknya telah mampu menyebutkan kembali secara lisan sebagian besar informasi yang terdapat dalam buku teks atau yang diajarkan oleh guru. Disamping itu, ada pula sebagaian orang yang memandang belajar sebagai latihan belaka seperti yang tampak pada latihan membaca dan menulis. Berdasarkan persepsi semacam ini, biasanya mereka akan merasa cukup puas bila anak-anak mereka telah mampu memperlihatkan keterampilan jasmaniah tertentu walaupun tanpa pengetahuan mengenai arti, hakikat dan tujuan keterampilan tersebut.[3]
Secara umum, belajar dapat diartikan sebagai perubahan perilaku yang relatif tetap sebagai hasil adanya pengalaman. Pengertian belajar memang selalu berkaitan dengan perubahan, baik yang meliputi keseluruhan tingkah laku individu maupun yang hanya terjadi pada beberapa aspek dari kepribadian individu. Perubahan ini dengan sendirinya dialami tiap-tiap individu atau manusia, terutama hanya sekali sejak manusia dilahirkan. Sejak saat itu, terjadi perubahan-perubahan dalam arti perkembangan melalui fase-fasenya. Dan karena itu pula, sejak saat itu berlangsung proses-proses belajar.[4]
B.  Ciri-ciri Belajar
  1. Perubahan yang terjadi secara sadar
Yaitu individu yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang-kurangnya individu merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya. Misalnya ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah, kecakapannya bertambah, kebiasaannya bertambah. Jadi, perubahan tingkah laku individu yang terjadi karena mabuk atau dalam keadaan tidak sadar, tidak termasuk kategori perubahan dalam pengertian belajar. Karena individu yang bersangkutan tidak menyadari akan perubahan itu.[5]
  1. Perubahan dalam belajar bersifat fungsional
Yaitu perubahan yang terjadi dalam diri individu berlangsung terus menerus dan tidak statis. Suatu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar berikutnya. Misalnya, jika seorang anak belajar menulis, maka ia akan mengalami perubahan dari tidak menulis menjadi dapat menulis. Perubahan itu berlangsung terus menerus hingga kecakapan menulisnya menjadi lebih baik dan sempurna. Ia dapat menulis dengan kapur, dan sebagainya. Di samping itu, dengan kecakapan-kecakapan lain. Misalnya, dapat menulis surat, menyalin catatan-catatan, mengerjakan soal-soal dan sebagainya.[6]
  1. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
Yaitu perubahan yang selalu bertambah dan tertuju untuk memperoleh suatu yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian, makin banyak usaha belajar itu dilakukan, makin banyak dan makin baik perubahan yang diperoleh. Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan karena usaha individu sendiri. Misalnya, perubahan tingkah laku karena proses kematangan yang terjadi dengan sendirinya karena dorongan dari dalam dan tidak termasuk perubahan dalam pengertian belajar.[7]
  1. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara
Yaitu perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat menetap atau permanen. Ini berarti bahwa tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap. Misalnya kecakapan seorang anak dalam memainkan piano setelah belajar tidak akan hilang, melainkan akan terus dimiliki dan bahkan makin berkembang bila terus dipergunakan atau dilatih.
  1. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah
Yaitu perubahan tingkah laku itu terjadi karen ada tujuan yang akan dicapai. Misalnya seseorang yang belajar mengetik, sebelumnya sudah menetapkan apa yang mungkin dapat dicapai dengan belajar mengetik atau tingkah kecakapan mana yang dicapainya. Dengan demikian, perbuatan belajar yang dilakukan senantiasa terarah pada tingkah laku yang telah ditetapkannya.
  1. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku
Yaitu perubahan yang diperoleh individu setelah melalui suatu proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku.[8] Jika seseorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap kebiasaan, keterampilan, pengetahuan dan sebagainya.[9] Misalnya, jika seorang anak telah belajar naik sepeda, maka perubahan yang paling tampak adalah dalam keterampilan naik sepeda itu. Akan tetapi, ia telah mengalami perubahan-perubahan lainnya seperti pemahaman tentang cara kerja sepeda, pengetahuan tentang jenis-jenis sepeda, pengetahuan tentang alat-alat sepeda, cita-cita untuk memiliki sepeda yang lebih bagus, kebiasaan membersihkan sepeda dan sebagainya. Jadi, aspek perubahan yang satu berhubungan erat dengan aspek lainnya.[10]

C.  Teori-Teori Belajar
Belajar itu bukanlah hanya melatih kekutan otot-otot dan urat saraf, lebih daripada soal memperkuat. Perbuatan-perbuatan belajar adalah aktivitas baru dan menambah pengetahuan dan kecakapan baru. Tetapi tidak semua aktivitas baru adalah belajar. Karena masalah belajar merupakan masalah penting di dalam psikologi dan psikologi pendidikan, maka banyaklah pendapat teori-teori belajar yang dikembangkan oleh para ahlinya yang bersangkutan.[11] Adapun teori-teori belajar itu ialah:
1.      Teori belajar menurut ilmu jiwa daya
Ahli-ahli ilmu jiwa daya mengemukakan suatu teori bahwa jiwa manusia mempunyai daya-daya. Misalnya, daya mengenal, daya mengingat, daya berpikir, daya fantasi dan sebagainya. Untuk melatih daya ingat seseorang harus melakukannya dengan cara menghafal kata-kata atau angka, istilah-istilah asing dan sebagainya. Untuk mempertajam daya berpikir seseorang harus melatihnya dengan memecahkan permasalahan dari yang sederhana sampai yang kompleks. Untuk meningkatkan daya fantasi seseorang harus membiasakan diri merenungkan sesuatu. Dengan usaha tersebut maka daya-daya itu dapat tumbuh dan berkembang dan tidak lagi bersifat laten (tersembunyi) di dalam diri. Pengaruh teori ini dalam belajar adalah ilmu pengetahuan yang didapat hanyalah bersifat hafala-hafalan belaka. Penguasaan bahan yang bersifat hafalan biasanya jauh dari pengertian. Walaupun begitu, teori ini dapat digunakan untuk menghafal rumus, dalil, tahun, kata-kata asing, dan sebagainya.[12]
2.      Teori tanggapan
Teori tanggapan adalah sutau teori belajar yang menentang teori belajar yang dikemukan oleh jiwa daya. Herbart adalah orang yang mengemukakan teori tanggapan. Menurutnya teori yang dikemukakan oleh ilmu jiwa daya tidak ilmiah, sebab psikologi daya tidak dapat menerangkan kehidupan jiwa. Menurutnya unsur jiwa yang paling sederhana adalah tanggapan. Sehingga orang yang banyak mempunyai tanggapan yang tersimpan dalam otaknya dikatakan orang yang pandai, sebaliknya orang yang sedikit mempunyai tanggapan dikatakan orang yang kurang pandai.[13] Jika sejumlah tanggapan diartikan sebagai sejumlah kesan, maka belajar adalah memasukkan kesan-kesan ke dalam otak dan menjadikan orang pandai. Kesan dimaksud di sini tentu berupa ilmu pengetahuan yang didapat setelah belajar.[14]
3.      Teori belajar menurut ilmu jiwa Gestalt
Teori ini berpandangan bahwa keseluruhan lebih penting dari bagian-bagian. Misalnya seorang pengamat yang mengamati seseorang dari kejauhan. Orang yang jauh itu pada mulanya hanyalah satu titik hitam yang terlihat bergerak semakin dekat dengan si pengamat. Semakin dekat orang itu dengan si pengamat maka semakin jelas terlihat bagian-bagian atau unsure-unsur anggota tubuh orang tersebut. Si pengamat dapat berkata bahwa orang itu mempunyai kepala, tangan, kaki, dahi, mata, hidung, mulut, telinga, baju, celana, sepatu, kacamata, jam tangan, ikat pinggang, dan sebagainya. Dalam belajar, menurut Gestalt yang terpenting adalah penyesuaian pertama, yaitu mendapatkan respons atau tanggapan yang tepat. Belajar yang terpenting bukan mengulangi hal-hal yang harus dipelajari, tetapi mengerti atau memperoleh instight. Belajar dengan insting adalah sebagi berikut:[15]
a.       Insting tergantung dari kemampuan dasar.
b.      Insting tergantung dari pengalaman masa lampau yang relevan.
c.       Insting hanya timbul apabila situasi belajar diatur sedemikian rupa, sehingga segala aspek yang perlu dapat diamati.
d.      Insting adalah hal yang harus dicari, tidak dapat jatuh dari langit.
e.       Belajar dengan insting dapat diulangi.
f.       Insting sekali dapat digunakan untuk menghadapi situasi-situasi yang baru.
4.      Teori belajar dari R. Gagne
Menurut Gagne, belajar ialah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku atau belajar adalah pengetahuan/keterampilan yang diperoleh dari instruksi. Dalam teori ini ada lima kategori sesuatu yang dipelajari manusia yaitu:[16]
a.       Keterampilan monotoris.
Dalam hal ini perlu koordinasi dari berbagai gerakan badan, misalnya melempar bola, main tenis, mengemudi mobil, mengetik huruf R.M, dan sebagainya.
b.      Informasi verbal.
Orang dapat menjelaskan sesuatu dengan berbicara, menulis, menggambar. Dalam hal ini dapat dimengerti bahwa untuk mengatakan sesuatu itu perlu inteligensi.
c.       Kemampuan intelektual
Manusia mengadakan interaksi dengan dunia luar menggunakan simbol-simbol. Misalnya, membedakan huruf m dan n, menyebutkan tanaman yang sejenis.
d.      Strategi kognitif
Ini merupakan organisasi keterampilan yang internal yang perlu untuk belajar mengingat dan berpikir. Kemampuan ini berbeda dengan kemampuan intelektual, karena ditujukan ke dunia luar dan tidak dapat dipelajari hanya dengan berbuat satu kali serta memerlukan perbaikan-perbaikan terus-menerus.
e.       Sikap
Kemampuan ini tak dapat dipelajari dengan ulangan-ulangan, tidak bergantung atau dipengaruhi oleh hubungan verbal seperti halnya domain yang lain. Sikap ini penting dalam proses belajar tanpa kemampuan ini belajar tak akan berhasil dengan baik.
5.      Teori belajar menurut ilmu jiwa asosiasi
Dalam aliran ilmu jiwa asosiasi ada dua teori yang sangat terkenal, yaitu teori konektionisme dari Thorndike dan teori conditioning dari Ivan P. Pavlov.
a.       Teori konektionisme
Teori ini mengatakan bahwa respon lepas dari kurungan itu lambat laun diasosiasikan dengan situasi stimulasi dalam belajar coba-coba. Respon benar lambat laun tertanam atau diperkuat melalui percobaan yang berulang-ulang. Respon yang tidak benar diperlemah atau tercabut. Gejala ini disebut sub situsi respons. Ada tiga hukum belajar yang utama belajar dan ini diturunkannnya dari hasil-hasil penelitiannya, yaitu:[17]
1.      Hukum efek. Hukum ini menyebutkan bahwa keadaan memuaskan menyusul respon memperkuat pautan antara stimulus dan tingkah laku. Sedangkan keadaan yang menjengkelkan memperlemah pautan ini.
2.      Hukum latihan. Hukum ini menjelaskan keadaan seperti dikatakan pepatah “Latihan menjadi sempurna”. Dengan kata lain, pengalaman yang diulang-ulang akan memperbesar peluang timbulnya respons (tanggapan) yang benar. Akan tetapi pengulangan-pengulangan yang tidak disertai keadaan yang memuaskan tidak akan meningkatkan belajar.
3.      Hukum kesiapan. Hukum ini melukiskan syarat-syarat yang menentukan keadaan yang disebut memuaskan atau menjengkelkan itu. Secara singkat, pelaksanaan tindakan sebagai respon terhadap suatu impuls yang kuat menimbulkan kepuasaan, sedangkan menghalang-halangi pelaksanaan tindakan atau memaksanya menimbulkan kejengkelan.
b.      Teori conditioning
Bagi para pengendara kendaraan bermotor tentu akan berhenti ketika dia melihat lampu lalu lintas menyala merah dan bergerak setelah dia melihat lampu lalu lintas menyala hijau. Bagi para perenang dalam suatu lomba renang, mereka akan berhenti setelah mencapai finis. Di sekolah, bagi semua anak didik bunyi lonceng dalam frekuansi tertentu sebagai tanda masuk, istirahat atau pulang, maka mereka akan menaatinya. Bentuk-bentuk kelakuan seperti itu terjadi karena adanya conditioning. Karena kondisinya diciptakan, maka sudah menjadi kebiasaan. Kondisi yang diciptakan itu merupakan syarat memunculkan refleks bersyarat.



D.  Jenis-Jenis Belajar
  1. Belajar arti kata-kata
Pada anak kecil, dia sudah mengetahui kata “kucing” atau “anjing”, tetapi dia belum mengetahui bendanya, yaitu binatang yang disebutkan dengan kata itu. namun lama kelamaan dia mengetahui juga apa arti kata “kucing atau “anjing”. Dia sudah tahu bahwa kedua binatang itu berkaki empat dan dapat berlari. Suatu ketika melihat seekor anjing dan anak tadi menyebutnya “kucing”. Koreksi dilakukan bahwa itu bukan kucing, tetapi anjing. Anak itu pun akhirnya tahu bahwa anjing itu bertubuh besar dengan telinga yang cukup panjang dan kucing itu bertubuh kecil dengan telinga yang kecil daripada anjing. Dengan begitu, maka kata kucing dapat anak mengerti sebagai simbol dari binatang, termasuk anjing. Oleh karena itu penguasaan arti kata-kata adalah penting dalam belajar.[18]
  1. Belajar kognitif
Dalam belajar kognitif, objek-objek yang ditanggapi tidak hanya yang bersifat materiil, tetapi juga yang bersifat tidak materiil. Objek-objek yang bersifat materiil misalnya antara lain: orang, binatang, bangunan, kendaraan, perabot rumah tangga dan tumbuh-tumbuhan. Objek-objek yang bersifat tidak materiil misalnya seperti ide kemajuan, keadilan, perbaikan, pembangunan dan sebagainya. Bila tanggapan berupa objek-objek materiil dan tidak materiil telah dimiliki, maka seseorang telah mempunyai alam pikiran kognitif. Itu berarti semakin banyak pikiran dan gagasan yang dimiliki seseorang, semakin kaya dan luaslah alam pikiran kognitif orang itu. Dalam belajar, seseorang tidak bisa melepaskan diri dari kegiatan belajar kognitif. Mana bisa kegiatan mental tidak berproses ketika memberikan tanggapan terhadap objek-objek yang diamati. Sedangkan belajar itu sendiri adalah proses mental yang bergerak ke arah perubahan.[19]
  1. Belajar menghafal
Menghafal adalah suatu aktivitas menanamkan suatu materi verbal di dalam ingatan, sehingga nentinya dapat diproduksikan (diingat) kembali secara harfiah, sesuai dengan materi asli. Peristiwa menghafal merupakan proses mental untuk mencamkan dan menyimpan kesan-kesan yang nantinya suatu waktu bila diperlukan dapat diingat kembali ke alam sadar.
  1. Belajar teoretis
Bentuk belajar ini bertujuan untuk menempatkan semua data dan fakta (pengetahuan) dalam suatu kerangka organisasi mental, sehingga dapat dipahami dan digunakan untuk memecahkan problem, seperti terjadi dalam bidang-bidang studi ilmiah. Misalnya bujur sangka mencakup semua bentuk persegi empat, iklim dan cuaca berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, tumbuhan-tumbuhan dibagi dalam genus dan species. Sekaligus dikembangkan metode-metode untuk memecahkan problem-problem secara efektif dan efisien, misalnya dalam penelitian fisika.
  1. Belajar konsep
Konsep adalah satuan arti yang mewakili sejumlah objek yang mempunyai ciri-ciri yang sama. Orang yang memiliki konsep mampu mengadakan abstraksi terhadap objek-objek yang dihadapi, sehingga objek ditempatkan dalam golongan tertentu. Misalnya pada bunga flamboyan, kembang sepatu, bunga anggrek, bunga bangkai, bunga melati, bunga mawar, bunga kenanga dan sebagainya. Pada semua jenis tumbuhan itu ditemukan sejumlah ciri yang terdapat pada semua bunga-bunga konkret itu, yaitu mekar, bertangkai, berwarna, sedap dipandang mata, berputik dan berbenang sari. Sejumlah cirri itu bersama-sama ditangkap atau dikumpulkan dalam pengertian “bunga”, yang kemudian dilambangkan dengan kata “bunga”.[20]
  1. Belajar kaidah
Kaidah ialah suatu pegangan yang tidak dapat diubah-ubah. Kaidah merupakan suatu gambaran mental dari kenyataan hidup dan sangat berguana dalam mengatur kehidupan sehari-hari. Hal ini berarti bahwa kaidah merupakan suatu keteraturan yang berlaku sepanjang masa. Oleh karena itu, belajar kaidah sangat penting bagi seseorang sebagai salah satu upaya penguasaan ilmu selama belajar di sekolah atau di perguruan tinggi (universitas). Misalnya setiap makhluk yang bernyawa pasti mati, udara yang lembab menyababkan besi berkarat, matahari terbit di timur dan tenggelam di barat, dan sebagainya.[21]
  1. Belajar berpikir
Belajar berpikir sangat diperlukan selama belajar di sekolah atau di perguruan tinggi. Masalah dalam belajar terkadang ada yang harus dipecahkan seorang diri, tanpa bantuan orang lain. Pemecahan atas masalah itulah yang memerlukan pemikiran. Berpikir itu sendiri adalah kemampuan jiwa untuk meletakkan hubungan antara bagian-bagian pengetahuan. Ketika berpikir dilakukan, maka di sana terjadi suatu proses penyusunan ilmu pengetahuan.
  1. Belajar keterampilan motorik (motor skill)
Orang yang memiliki suatu keterampilan motorik, mampu melakukan suatu rangkaian gerak-gerik jasmani dalam urutan tertentu dengan mengadakan koordinasi antara gerak-gerik berbagai anggota badan secara terpadu. Dalam kehidupan manusia, keterampilan motorik memegang peranan sangat pokok. Seorang anak kecil sudah harus menguasai berbagai keterampilan motorik, seperti mengenakan pakaiannya sendiri, menggunakan alat-alat makan, mengucapkan bunyi-bunyi yang berarti, sehingga dapat berkomunikasi dengan saudara-saudaranya, dan sebagainya. Pada waktu masuk sekolah dasar, anak memperoleh keterampilan-keterampilan baru, seperti menulis dengan memegang alat tulis dan membuat gambar-gambar, keterampilan-keterampilan ini menjadi bekal dalam perkembangan kognitifnya.
  1. Belajar estetis
Bentuk belajar ini bertujuan membentuk kemampuan menciptakan dan menghayati keindahan dalam berbagai bidang kesenian. Belajar ini mencakup fakta, seperti nama Mozart sebagai penggubah musik klasik; konsep-konsep seperti ritme, tema dan komposisi; relasi-relasi, seperti hubungan antara bentuk dan isi; struktur-struktur seperti sistematika warna dan aliran-aliran dalam seni lukis; metode-metode, seperti menilai mutu dan originalitas suatu karya seni.[22]

E.                 Aktivitas-Aktivitas Belajar
Berikut ini dibahas beberapa aktivitas belajar, yaitu:[23]
1.      Mendengarkan
2.      Memandang
3.      Meraba, membau dan mencicipi/mengecap.
4.      Menulis atau mencatat
5.      Membaca
6.      Membuat ikhtisar atau ringkasan dan menggarisbawahi
7.      Mengamati tabel-tabel, diagram-diagram dan bagan-bagan.
8.      Menyusun paper atau kertas kerja.
9.      Mengingat
10.  Latihan atau praktek.
BAB III
PENUTUP

Simpulan:
Belajar berkaitan dengan perubahan, baik yang meliputi keseluruhan tingkah laku individu maupun yang hanya terjadi pada beberapa aspek dari kepribadian individu. Adapun teori-teori belajar itu ialah:
  1. Teori belajar menurut ilmu jiwa daya
  2. Teori tanggapan
  3. Teori belajar menurut ilmu jiwa Gestalt
  4. Teori belajar dari R. Gagne
  5. Teori belajar menurut ilmu jiwa asosiasi
Sedangkan jenis-jenis belajar, antara lain:
1.      Belajar arti kata-kata
2.      Belajar kognitif
3.      Belajar menghafal
4.      Belajar teoretis
5.      Belajar konsep
6.      Belajar kaidah
7.      Belajar berpikir
8.      Belajar keterampilan motorik (motor skill)
9.      Belajar estetis
DAFTAR PUSTAKA

Anastari, Anne, Bidang-Bidang Pisikologi Terapan, Jakarta: Pt. RajaGrafindo Persada, 1993.
Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar, Edisi II, Jakarta: Rineka Cipta, 2008.
Dryden, Gordon & Jeannette, Revolusi Cara Velajar (The Learning Revolution), Cet. 7, Bandung: Kaifa, 2003.
Fudyartanta, Ki, Psikologi Umum, Cet I, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.
Mahmud, Dimyati, Psikologi Suatu Pengantar, Edisi 1, Yogyakarta: BPFE, 1990.
Sobur, Alex, Psikologi Umum, Cet. I, Bandung: CV. Pustka Setia, 2003.
Syah, Muhibbin, Psikologi Belajar, Jakarta: Rajawali Pers, 2009.




[1]Gordon Dryden & Jeannette, Revolusi Cara Velajar (The Learning Revolution), Cet. 7, (Bandung: Kaifa, 2003), h. 327
[2]Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009) , h. 59
[3]Ibid, h. 64
[4]Alex Sobur, Psikologi Umum, Cet. I, (Bandung: CV. Pustka Setia, 2003) , h. 218-219
[5]Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, Edisi II, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h. 15
[6]Ibid  
[7]Ibid
[8]Ibid, h. 16
[9]Anne Anastari, Bidang-Bidang Pisikologi Terapan, (Jakarta: Pt. RajaGrafindo Persada, 1993), h. 156
[10]Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar,op. cit., h. 17
[11]Ki Fudyartanta, Psikologi Umum, Cet I, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), h. 266
[12]Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar,op. cit., h. 18
[13]Ibid
[14]Dimyati Mahmud, Psikologi Suatu Pengantar, Edisi 1, (Yogyakarta: BPFE, 1990), h. 58
[15]Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar,op. cit., h. 19
[16]Ibid, h. 22
[17] Ibid, h. 24
[18]Ibid, h. 28
[19]Ibid, h. 29
[20]Ibid, h. 31
[21]Ibid, h. 32
[22]Ibid, h. 37
[23]Ibid, h. 38-45

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar