Jumat, 11 April 2014

PERKEMBANGAN FILSAFAT



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Kelahiran filsafat modern sejak renaissance dan aufklaerung merupakan reaksi terhadap pemikiran filsafat abad pertengahan. Gereja pada waktu menjadi satu-satunya menjadi otoritas yang mengakui kebenaran dan keabsahan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan. Dibidang astronomi perkembangan ilmu pengetahuan diluar kontrol gereja sudah berjalan sangat pesat. Sehingga upaya mengontrol perkembangan ilmu pengetahuan mengalami kegagalan. Terjadilah serkularisasi ilmu, pemisahan antara aktifitas ilmiah dengan aktifitas keagamaan. Dan pada abad ke-20 postmodernisme juga sebagai reaksi terhadap pemikiran modern yang juga telah berubah menjadi mitos baru. Filsafat modern yang lahir sebagai reaksi terhadap dogmatis abad pertengahan, menurut kaum postmodermis telah terjebak dalam membangun mitos-mitos baru. Mitos-mitos itu ialah suatu keyakinan bahwa dengan pemikiran filsafat, ilmu pengetahuan dan aplikasinya dalam teknologi, segala persoalan kemanusiaan dapat diselesaikan. Padahal kenyataannya banyak agenda kemanusiaan yang masih membutuhkan pemikiran-pemikiran baru. Untuk lebih jelas lagi mari kita bahas makalah ini bersama.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Perkembangan Pada Zaman Modern ?
2.      Bagaimana Perkembangan Pada Zaman Kontemporer ?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Zaman Modern (17-19 M)
Filsafat barat modern yang kelahirannya didahului oleh suatu periode yang disebut dengan “renaissans” dan dimatangkan oleh “gerakan” Aufklaerung diabad ke-18 itu, didalamnya mengandung dua hal yang sangat penting. Pengaruh dari gerakan renaissans dan aufklaerung itu telah menyebabkan peradaban dan kebudayaan barat modern berkembang dengan pesat, dan semakin bebas dari pengaruh otoritas dogma-dogma gereja.
Sejak itu kebenaran filsafat dan ilmu pengetahuan didasarkan atas kepercayaan dan kepastian intelektual (sikap ilmiah) yang kebenarannya dapat dibuktikan berdasarkan metode, perkiraan dan pemikiran yang dapat diuji.
Filsafat barat modern dengan demikian memiliki corak yang berbeda dengan periode filsafat abad pertengahan. Pada zaman modern otoritas kekuasaan itu terletak kemampuan akal manusia itu sendiri. Manusia pada zaman modern tidak mau diikat oleh kekuasaan serta raja dengan kekuasaan politiknya yang bersifat absolut.
Para filosof modern pertama-tama menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau dogma-dogma gereja, juga tidak berasal dari kekuasaan feudal.  Semua filsuf apad zaman ini menyelidiki segi-segi subjek manusiawi ; “Aku” sebagai pusat pemikiran, pusat pengamatan, pusat kebebasan, pusat tindakan, pusat kehendak, dan pusat perasaan.
Wacana filsafat yang menjadi topic utama pada zaman modern, khususnya dalam abad ke-17, adalah persoalan epistemologi. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bercorak epistemologis ini, maka dalam filsafat abad ke-17 muncullah dua aliran filsafat yang memberikan jawaban berbeda, bahkan saling bertentangan. Aliran filsafat tersebut ialah rasionalisme dan empirisisme.
a.       Rasionalisme
Usaha manusia untuk member kepada akal suatu kedudukan yang “ berdiri sendiri”, telah dirintis oleh para pemikir “renaissans” berlanjut terus sampai abad  ke-17. Semakin lama mausia semakin menaruh kepercayaan yang besar terhadap kemampuan akal.
Akibat dari keyakinan yang berlebihan terhadap kemampuan akal itu, dinyatakanlah perang terhadap mereka yang malas mempergunakan akalnya, terhadap kepercayaan yang bersifat dogmatis seperti yang terjadi pada abad pertengahan, terhadap tata-susila yang bersifat tradisi, terhadap apa saja yang tidak masuk akal, dan terhadap keyakinan-keyakinan dan anggapan-anggapan yang tidak masuka akal.
Corak berfikir dengan melulu mengandalkan atau berdasarkan atas kemampuan akal (Rasio), dalam filsafat dikenal dengan nama aliran ‘rasionalisme’.
Aliran filsafat  rasionalisme ini berpendapat, bahwa sumber pengetahuan yang memadai dan dapat dipercaya adalah akal (Rasio). Hanya pengetahuan yang diperoleh melalui akallah yang memenuhi syarat yang dituntut oleh sifat umum dan harus mutlak, yaitu syarat yang dituntut oleh semua pengetahuan ilmiah. Metode yang diterapkan oleh para filsuf rasionalisme ialah metode deduktif.
Secara ringkas dapatlah dikemukakan dua hal pokok yang merupakan ciri dari semua bentuk rasionalisme, yaitu :
1.      Adanya pendirian bahwa kebenaran-kebenaran yang hakiki itu secara langsung dapat diperoleh dengan menggunakan akal sebagai sarananya.
2.      Adanya suatu penjabaran secara logik atau deduksi.
Tokoh-tokoh aliran filsafat rasionalisme ini ialah Descartes, Spinoza, dan Leibniz, dari ketiga tokoh ini yang dibicarakan dalam rangka aliran ini adalah Descartes.
Tokoh penting aliran filsafat rasionalisme adalah Rene Descartes (1598-1650) yang juga adalah pendiri filsafat modern.
Metode Descartes dimaksudkan bukan saja sebagai metode penelitian ilmiah, ataupun penelitian filsafat, melainkan sebagai metode penelitian rasional mana saja, sebab akal budi manusia selalu sama.
Descartes memulai metodenya dengan meragu-ragukan segala macam pernyataan kecuali pada satu pernyataan saja, yaitu bahwa ia sedang melakukan keragu-raguan sendiri menegaskan bahwa ia dapat saja meragukan segala hal, namun satu hal yang tidak mungkin diragukan adalah kegiatan meragu-ragukan itu sendiri. Maka ia sampai pada kebenaran yang tak terbantahkan, yakni : saya berfikir, jadi saya ada (Cogito ergo sum). Pernyataan ini begitu kokoh dan menyakinkan, sehingga anggapan kaum skeptic yang paling ekstrim pun tidak akan mampu menggoyahkannya. Cogiti ergo sum ini oleh Descartes diterima sebagai prinsip pertama dari filsafat.
Segala sesuatu yang bersifat terang dan jelas bagi akal pikiran amausia dapatlah dipakai sebagai dasar yang tidak perlu dibuktikan lagi kebenarannya untuk melakukan penjabaran terhadap pernyataan-pernyataan yang lain. Segenap ilmu pengetahuan haruslah didasarkan atas kepastian-kepastian yang tidak dapat diragukan lagi akan kebenaranya yang secara langsung dilihat oleh akal pikiran manusia. Metode semacam ini dinamakan juga metode “Apriori“.
Sistem filsafat yang dikembangkan Descartes tak dapat dipisahkan dari sikap kritik yang berkembang dalam pergolakan renainsans, kebangkitan budaya yang sekaligus membawa suatu skeptisisme terhadap dogma agama dan praktek politik yang sampai saat itu menjamin ketahanan status gereja dan Negara.
b.      Empirisisme
Menurut penganut empirisisme  metode ilmu pengetahuan itu bukanlah bersifat a priori, tetapi a posteriori.
Bagi penganut empirisisme sumber pengetahuan yang memadai itu ialah pengalaman, oleh karena itu para penganut aliran empirisisme berkeyakinan bahwa manusia tidak mempunyai ide-ide bawaan atau innate ideas. Bagi mereka manusia itu ibarat kertas putih yang belum terisi oleh apa-apa, dan baru terisi melalui pengalaman-pengalaman, baik pengalaman lahiriah maupun pengalaman batiniah.
Aliran empirisisme pertama kali berkembang di Inggris pada abad ke-15 dengan Prancis Bacon sebagai pelopornya. Menurut Bacon, manusia melalui pengalaman dapat menhgetahui benda-benda dan hukum-hukum relasi antara benda-benda. Ia juga memberikan sejumlah petunjuk agar seorang ilmuan berhati-hati terhadap idol-idola, yaitu :
1)      Idola Tribus
2)      Idola Specus
3)      Idola Fori
4)      Idola Theatri
Filosof empiris lainnya adalah Thomas Hobbes, ia juga meyakini bahwa pengenalan atau pengetahuan itu diperoleh dari pengalaman. Berbeda dari pendahulunya, John Locke lebih terdorong untuk mengemukakan tentang asal mula gagasan manusia, kemudian menentukan fakta-fakta, menguji kepastian pengetahuan dan memeriksa batas-batas pengetahuan manusia.
Paham empirisime ini kemudian dikembangkan oleh David Hume (1611-1776), ia sangat menentang kaum rasionalisme yang berlandaskan pada prinsip a priori, yang bertitik tolak dari ide-ide bawaan. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak membawa pengetahuan bawaan kedalam hidupnya. Melalui pengamatan ini manusia memperoleh dua hal yaitu : kesan-kesan (impression) dan pengertian-pengertian (ideas).
Pada hakikatnya pemikiran Hume bersifat analitis, kritis, dan skeptis. Sebab bagi Hume dunia hanya terdiri dari kesan-kesan yang terpisah-pisah, yang tidak dapat disusun secara objektif sistematis, karena tidak ada hubungan sebab akibat antara kesan-kesan.
Secara ringkas dapatlah bahwa pengetahuan yang bersifat a priori terdiri dari proposisi analitik contoh , semua angsa putih, semua jejaka itu laki-laki, es itu dingin, lingkaran itu bulat dan lain-lain. Dan pendapat ini merupakan ini cirri khas pemikiran yang bercorak rasionalistik. Sabaliknya cirri khas dari empiristik adalah a posteriori, dan proposisinya adalah sintetik, tetapi harus di uji kebenarannya secara empiris. Misal : rumah mahal, motor baru dan lain-lain.
c.       Kritisisme
Seseorang filsuf Jerman yang bernama Immanuel Kant (1724-1804)telah melakukan usaha untuk menjembatani pandangan-pandangan yang saling bertentangan,yaitu antara rasionalisme dan empirisisme.
Filsafat Imanuel kant, yang di sebut dengan aliran filsafat kritisisme.kritisisme adalah sebuah teori pengetahuan yang berusaha untuk mempersatukan kedua macam unsur dalam filsafat rasionalisme dan empirisisme dalam suatu hubungan yang seimbang,yang satu tidak terpisahkan dari yang lain.Menurut Kant pengetahuan merupakan hasil terakhir yang di peroleh dengan adanya kerja sama di antaranya dua komponen,yaitu di satu pihak berupa bahan-bahan yang bersifat pengalaman inderawi, dan di lain pihak cara mengolah kesan-kesan yang bersangkutan sedemikian rupa sehingga terdapat suatu hubungan antara sebab dan akibatnya.sesungguhya relasi-relasi antara sebab dan akibat tidaklah terdapat di dalam dunia melainkan merupakan bentuk-bentuk penafsiran manusia yang gunanya ialah agar gejala-gejala yang begitu beraneka ragam yang kita hadapi.
Kant yang mencoba untuk mempersatukan rasionalisme dan empirisisme mengatakan bahwa dengan hanya mementigkan salah satu dari kedua asfek sumber pengetahuan (rasio dan empiri) tidak akan diporoleh pengetahuan yang kebenarannya bersifat universal sekaligus dapat memberikan informasi baru. Pengetahuan yang rasional adalah pengetahuan yang analitis priori, sedangkan pengetahuan yang empiris adalah pengetahuan yang sintesis a posteriori. Pengetahuan nasional adalah pengetahuan yang bersifat universal, tapi tidak memberikan informasi baru. Sebaliknya pengetahuan empiris (sintetis a posteriori) dapat memberikan informasi baru, tetapi kebenarannya tidak universal.
Kant mengatakan bahwa pengetahuan selalu bersifat sintetis. Pengetahuan dari akal merupakan sintetis dari data indrawi dan sumbangan dari kategori-kategori. Kant telah memberikan pembetulan terhadap sikap berat sebelah yang dikemukakan oleh penganut rasionalisme dan empirisisme. Sehingga ia telah membuka jalan bagi perkembangan filsafat dikemudian hari.
d.      Idealisme
Permulaan pemikiran idealism dalam sejarah filsafat barat biasanya selalu dihubungkan dengan Plato (427-347 SM). Aliran filsafat idealism dalam abad ke-19 merupakan kelanjutan dari pemikiran filsafat rasionalisme pada abad ke-17.
Bagi Hegel pikiran adalah essensi dari alam dan alam adalah keseluruhan jiwa yang di obyektifkan. Alam adalah proses pemikiran yang memudar, adalah juga akal yang mutlak (absolute reason) yangb mengeksprsikan dirinya dalam bentuk luar. Oleh karena itu menurut Hegel hukum-hukum pikiran yang merupakan hukum-hukm realitas. Sejarah adalah cara zat yang mutlak ( absolute) itu menjelma dalam waktu dan pengalaman manusia. Tahap-tahap keberadaan spiritual dalam suatu tata tertib yang mencakup segala-galanya, pada itulah kita membicarakan tentang yang mutlak, jiwa yang mutlak atau Tuhan.
Hegel secara sepintas tampaknya mengingkari adanya realitas luar atau realitas obyektif. Akan tetapi sebenarnya ia tidak mengingkari realitas luar atau realitas obyektif tersebut.
Hegel percaya bahwa hal ini ditemukan bukan sekedar dipahami dalam alam. Menurul Hegel telah ada sebelum manusia ada, tetapi adanya arti dalam dunia, mengandung arti bahwa ada sesuatu seperti akal atau pikiran ditengah-tengah idealitas. Tata tertib realitas yang sangat berarti diberikan kepada manusia agar ia memikirakan dan berpartisipasi didalamnya. Keyakinan terhadap arti dan pemikiran dalam struktur dunia merupakan intuisi dasar yang menjadi asas idealisme.
Era Hegel telah muncul beberapa filsuf menyebut dirinya sebagai penganut aliran idealisme. Diantaranya ialah F.H. Bradley dari Inggris dan aliran filsafatnya kadang-kadang disebut juga Neo Hegelianisme Inggris. Filsafat idealism F,H. Bradley ini sangat berpengaruh terhadap munculnya filsafat anlitik pada abad ke-20.
e.       Positivisme
Pendiri tokoh terpenting dari aliran filsafat positivisme adalah Auguste Comte (1798-1857) ialah hanya menerima fakta-fakta yang ditemukan secara positif-ilmiah, dan menjauhkan diri dari semua pertanyaan yang mengatasi bidang ilmu-ilmu positif. Semboyan Comte yang terkenal adalah savoir pour prevoir.
Filsafat positivisme Comte disebut juga paham empirisisme-kritis, bagi Comte pengamatan tidak mungkin dilakukan tanpa melakukan penafsiran atas dasar sebuah teori dan pengamatan juga tidak mengkin dilakukan secara “ Terisolasi”, dalam arti harus dikaitkan dengan suatu teori. Metode positif Auguste Comte juga menekankan pandanganya juga hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain. 
Filsafat Auguste Comte terutama penting sebagai pencipta ilmu sosiologi. Kebanyakan konsep prinsip dan metode yang sekarang dipakai dalam sosiologi, dan berasal dari Comte. Comte membagi masyarakat atas “statika sosial” dan “ dinamika sosial”. sosiologi ini sekaligus suatu “ filsafat sejarah”, karena Comte memberikan tempat kepada fakta-fakta individual sejarah dalam suatu teori umum, sehingga terjadi sintesis yang menerangkan fakta-fakta itu. Fakta-fakta itu dapat bersifat politik, yuridis, ilmiah, tetapi juga falsafi, relegius atau kultural.
f.       Marxisme
Pendiri aliran filsafat ini adalah Kall Marx (1818-1883), filsafat Marx adalah perpanduan antara metode dialektika Hegel dan filsafat materialism Feuerbach. Filsafat abstrak harus ditinggalkan, karena teori interperstasi, spekulasi dan sebagainya tidak mengahasilkan perubahan dalam masyarakat.
Marx mengajarkan bahwa sejarah dijalankan oleh suatu logika tersendiri. Pemikiran Marx menghubungkan dengan sangat erat ekonomi dengan filsafat. Bagi Marx masalah filsafat bukan hanya maslah pengetahuan dan masalah kehendak murni yang utama, melainkan masalah tindakan. Para filosof menurut Marx selama ini hanya sekedar menafsirkan dunia berbagai cara, namun menurut yang terpenting adalah mengubahnya. Menurut Marx kaum, proletar harus merebut peranan kaum Borjuis dan Kapitalis itu melalui revolusi. Berkembangnya aliran-aliran epistemologi, filsafat modern juga mengantarkan lahirnya revolusi industri di abad  ke-18 dan Negara-negara kebangsaan. Serta ideologi-ideologi dunia seperti Liberalisme/Kapitalisme dan Sosialisme/Komunisme.[1]


B.     Zaman Kontemporer (Abad ke-20 dan seterusnya)
Tema yang menguasai refleksi filosofis dalam abad ke-20 ini adalah pemikiran tentang bahasa. Sebagian besar pemikir abad ke-20 pernah menulis tentang bahasa.
            Menurut Wittgenstein, apa yang dihasilkan oleh sebuah karya filsafat melulu sederetan ungkapan filsafati, melainkan upaya membuat ungkapan-ungkapan menjadi jelas. Para filsuf analitik ini tidak lain sebagai reaksi atau respons terhadap aktivitas filsafat yang dilakukan oleh para penganut aliran filsafat idealisme. sebab aliran filsafat idealisme lebih menekankan pada upaya mengintrodusir ungkapan-ungkapan filsafati. Ungkapan-ungkapan filsafati yang di introdusir oleh penganut idealisme itu menurut filsuf analitik kebanyakan bermakna ganda kubur dan tidak terpahami oleh akal sehat. Hal-hal semacam itulah yang perlu diatasi dengan analisis bahasa. Perkembangan filsafat abad ke-20 juga ditandai oleh munculnya berbagai aliran filsafat kebanyakan aliran itu merupakan kelanjutan dari aliran-aliran filsafat yang telah berkembang pada abad modern.
Beberapa aliran dan tokoh yang paling berpengaruh pada abad ke-20 adalah Edmund Husserl (1859-1938), selaku pendiri aliran Fenomenologi, ia telah mempengaruhi pemikiran filsafat abad ke-20 ini secara amat mendalam.
Eksistensialisme dan fenomenologi merupakan dua gerakan yang sangat erat dan menunjukkan pemberontakan tambahan terhadap metode-metode dan pandangan-pandangan barat. Terdapat perbedaan-perbedaan yang besar antara para pengikut aliran ini namun terdapat tema-tema yang sama sebagai cirri khas aliran ini yang tampak pada para penganutnya. Mengidentifikasi ciri aliran eksistensialisme sebagai berikut :
1.      Eksistensialisme adalah pemberontakan dan protes terhadap rasionalisme dan masyarakat modern, khususnya terhadap idealism Hegel.
2.      Eksistensialisme adalah suatu protes atas nama individualis terhadap konsep-konsep, filsafat akademis yang jauh dari kehidupan konkret.
3.      Eksistensialisme juga merupakan pemberontakan terhadap alam yang impersonal (tanpa kepribadian) dari zaman industri modern dan teknologi, serta gerakan masa. Masyarakat industry cenderung untuk menundukkan orang seorang kepada mesin.
4.      Eksistensialisme merupakan protes terhadap gerakan-gerakan totaliter baik gerakan pasis, komunis, yang cenderung menghancurkan atau menenggelamkan perorangan didalam kolektif atau masa.
5.      Eksistensialisme menekankan situasi manusia dan prospek manusia didunia.
6.      Eksistensialisme menekankan keunikan dan kedudukan pertama eksistensi, pengalaman kesadaran yang dalam dan langsung.
Salah seorang tokoh eksistensialisme yang popular adalah Jean Paul Sartre (1905-1980) ia membedakan dialektis dengan rasio analitis.
Aliran filsafat eksistensialisme yang menjadi mode berfilsafat pada pertangahan abad ke-20 mendapat reaksi aliran strukturalisme. Jika eksistensialisme menekankan pada peranan pada individu, maka strukturalisme justru melihat manusia “terkukung” dalam berbagai struktur dalam kehidupannya. Secara garis besar ada dua pengertian pokok yang sangat erat kaitannya dengan strukturalisme sebagai aliran filsafat.
Pertama, strukturalisme adalah metode atau metodelogi yang digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu kemanusiaan dengan bertitik tolak dari prinsip-prinsip linguistic yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure,
Kedua,   strukturalisme merupakan aliran filsafat yang hendak memahami masalah yang muncul dalam sejarah filsafat. Disini metodelogi struktural dipakai untuk membahas tentang manusia, sejarah kebudayaan, serta hubungan antara kebudayaan dan alam.
            Para strukturalis filosofis yang menerapkan prinsip-prinsip strukturalisme linguistic dalam berfilsafat bereaksi terhadap aliran filsafat fenomenologi dan eksistensialisme yang melihat manusia dari sudut pandang yang subjektif. Para penganut aliran filsafat strukturalisme ini memiliki kesamaan.
            Tokoh berpengaruh dalam aliran filsafat struktulisme adalah Michel Foucault (1926-1984) Kesudahan ‘manusia’ sudah dekat itulah pendirian Foucalt yang sudah terkenal tentang ‘kematian’ manusia. Maksud Foucault bukanya bahwa nanti tidak ada manusia lagi, melainkan bahwa akan hilang konsep ‘manusia’ sebagai suatu kategori istimewa dalam pemikiran kita.         
Pada abad ke-20 ada aliran filsafat yang pengaruhnya dalam dunia praktis cukup besar, yaitu aliran filsafat pragmatisme. Aliran filsafat ini merupakan suatu sikap metode dan filsafat yang memakai akibat-akibat praktis dari pikiran dan kepercayaan sebagai ukuran untuk menetapkan nilai kebenaran.                                               
Salah seorang tokoh pragmatisme adalah Willam Jasme (1842-1910),ia memandang pemikirannya sendiri sebagai kelanjutan empirisme Inggris, namun empirismenya bukan merupakan upaya untuk menyusun kenyataan berdasar atas fakta-fakta lepas sebagai hasil pengamatan. James membedakan dua macam bentuk pengetahuan :
1)      Pengetahuan yang langsung diperoleh dengan jalan pengamatan.
2)      Merupakan pengetahuan tidak langsung yang diperoleh dengan melalui pengertian.
Suatu ide dapat menjadi benar apabila didukung oleh peristiwa-peristiwa sebagai akibat atau buah dari ide itu.
Pada awalnya postmodernisme lahir sebagai reaksi terhadap kegagalan modernism. Dalam modernisme, filsafat memang berpusat pada Epistemologi yang bersandar pada gagasan tentang subjektivitas dan objektivitas murni yang satu sama lain terpisah tak saling berkaitan. Tugas pokok filsafat adalah mencari fondasi segala pengetahuan dan tugas pokok subjek adalah mempresentasikan kenyataan objektif.
Wacana postmodern menjadi popular setelah Francois Lyotard (1924) menerbitkan bukunya The Postmodern Condition : A Report on Knowledge (1979). Modernitas menurut Lyotard ditandai oleh kisah-kisah besar yang mempunyai fungsi mengarahkan serta menjiwai masyarakat modern, mirip dengan mitos-mitos yang mendasari masyarakat masyarakat primitif dulu.[2]














BAB III
  PENUTUP

Simpulan :
            Demikian dengan kelahiran filsafat modern yang dirintis sejak renaissance dan aufklaerung merupakan reaksi terhadap pemikiran filsafat abad pertengahan yang bersifat teologis dogmatis. Gereja sebagai institusi pada waktu menjadi satu-satunya menjadi otoritas yang mengakui kebenaran dan keabsahan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan. Padahal perkembangan ilmu pengetahuan diluar kontrol gereja sudah berjalan sangat pesat, terutama bidang astronomi. Sehingga upaya mengontrol perkembangan ilmu pengetahuan kedalam sekat-sekat agama mengalami kegagalan. Terjadilah serkularisasi ilmu, yakni pemisahan antara aktifitas ilmiah dengan aktifitas keagamaan.
            Pada abad ke-20 postmodernisme juga sebagai reaksi terhadap pemikiran modern yang juga telah berubah menjadi mitos baru. Filsafat modern yang lahir sebagai reaksi terhadap dogmatis abad pertengahan, menurut kaum postmodermis telah terjebak dalam membangun mitos-mitos baru. Mitos-mitos itu ialah suatu keyakinan bahwa dengan pemikiran filsafat, ilmu pengetahuan dan aplikasinya dalam teknologi, segala persoalan kemanusiaan dapat diselesaikan. Padahal kenyataannya banyak agenda kemanusiaan yang masih membutuhkan pemikiran-pemikiran baru. Disinilah postmodernisme “menggugat” modernism yang telah mandeg dan berubah menjadi mitos baru.



DAFTAR PUSTAKA

Rizal Mustansyir  & Misnal Munir, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.
Muhadjir Neong, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: PT. Rake Sarasin, 2001.


[1] Rizal Mustansyir & Misnal Munir, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), h. 71-89.
[2] Neong Muhadjir, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: PT. Rake Sarasin, 2001), h. 197-198.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar