Jumat, 04 April 2014

PEMERINTAHAN BANI UMAYAH



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Mu’awiyah nama lengkapnya adalah Mu’awiyah bin Abi Sofyan bin Harb bin Umayah bin Harb bin Abdi  Syams bin Abd Manaf Al-Quraisyi. Ibunya bernama Hindun binti Utbah bin Rabi’ah bin Abd Syams bin Abd Manaf. Dari silsilah inilah secara geneologis terjadi pertemuan antara nenek moyang bapaknya dengan nenek moyang ibunya yaitu pada Abd Syams. Mu’awiyah yang dijuluki Abu Abd Rohman dilahirkan kira-kira pada tahun ke-5 sebelum kenabian (606 M).
Mu’awiyah dan bapaknya masuk Islam pada peristiwa penaklukan kota Mekah. Mu’awiyah masuk Islam berusia kurang lebih 23 tahun. Pengakuan Mu’awiyah sendiri bahwa ia menjadi atau muslim jauh sebelum penaklukan kota Mekah, yaitu pada Yaum Al-Qadla. Ketika Rasulullah Saw dan para sahabat melakukan umrah, setelah perjanjian Hudaibiyah  tetapi keislamannya disembunyikan karena takut mendapat ancaman  dari keluarganya terutama ibunya, bahwa kalau dia masuk Islam pasokan makanan, warisan dan sebagainya akan dihentikan oleh keluarganya.
Setelah keislamannya Mu’awiyah mendapat kepercayaan dari  Rasulullah Saw untuk menjadi penulis wahyu. Jabatannya sebagai penulis wahyu ini sebagai penghargaan atas keluarga Bani Umayah.
Dari latar belakang di atas penulis tertarik untuk menggali lebih dalam mengenai Mu’awiyah bin Abu Sofyan dan pemerintahan Bani Umayah. Sehingga untuk lebih jelasnya akan dibahas dan dipaparkan pada bab selanjutnya.

B.       Rumusan Masalah
  1. Bagaimana karakteristik/ sifat Mu’awiyah dalam pemerintahannya?
  2. Apa saja prestasi/ kemajuan yang diraih pada pemerintahan Bani Umayah?
  3. Apa saja penyebab runtuhnya pemerintahan Bani Umayah?






BAB II
PEMBAHASAN

A.      Muawiyah (661-680)
Dengan meninggalnya Khalifah Ali, maka bentuk pemerintahan kekhalifahan telah berakhir, dan di lanjutkan dengan bentuk pemerintahan kerajaan (Dinasti), yakni kerajaan Bani Umayah (Dinasti Umayah). Daulat Bani Umayah didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb bin Umayah.[1]
Muawiyah pendiri dinasti dinasti Umayah, adalah anak Abu Sufyan. Muawiyah memperoleh kekuasaan tetapi kecuali di Siria dan Mesir, dia memerintah semata-mata dengan pedang. Didalam dirinya digabungkannya sifat-sifat seorang penguasa, politikus, dan administrator. Muawiyah adalah seorang peneliti sifat manusia yang tekun dan memperoleh wawasan yang tajam tentang pikiran manusia. Dia berhasil memanfaatkan para pemimpin, administrator dan politikus yang paling ahli pada waktu itu. Ia adalah seorang ahli pidato ulung.[2]

B.  Basis Kekuatan Muawiyah
Muawiyah dapat menduduki kursi kekuasaan dengan berbagai cara, siasat, politik dan tipu muslihat yang licik, tidak atas pilihan dari kaum muslimin sebagaimana dilakukan oleh para khalifah. Dengan demikian, berdirinya Daulat Bani Umayah bukan berdasar pada hukum musyawarah atau demokrasi. Jabatan raja menjadi pusat yang turun temurun, dan Daulat Islam berubah sifatnya menjadi daulat yang bersifat kerajaan (Monarci).[3]
Muawiyah pada masa pemerintahanya telah bertindak mewariskan seorang Muslim dari seorang kafir tetapi tidak mewariskan seorang kafir dari seorang Muslim. Ketentuan yang berupa bid’ah (sesuatu yang diada-adakan dalam agama). Ibnu Katsir berkata bahwa Muawiyah juga telah mengganti Sunnah Rasul Saw. Dan para Khulafaur Rasyidun dalam urusan diyat. Sebelum itu, diyat (denda) pembunuhan terhadap seorang non-Muslim yang telah mengikat perjanjian dengan negara Islam, jumlahnya sama dengan diyat seorang Muslim. Tapi Muawiyah menguranginya sampai setengahnya dan ia mengambil setengahnya yang lain bagi dirinya sendiri.[4]
Keberhasilan Muawiyah adalah Perang Saudara Pertama dan pendirian dinasti kekuasaan Umayah bukan hanya akibat dari terjadinya pembunuhan terhadap Ali. Dari semua Gubernur Suriah memiliki keuntungan-keuntungan tertentu yang tidak di miliki saingannya, dan nilai yang mungkin akan memberinya kemenangan seandainya pertikaian di selesaikan di medan pertempuran. Paling tidak kalau di banding dengan Muawiyah. Dia seorang pejuang yang tangguh, walau cerita-cerita mengenai kegarangannya dengan pedang ketika perang Badar.[5]
Ketika Muawiyah menolak mengakui Ali sebagai khalifah dan kemudian mengaku jabatan itu bagi dirinya, dia mewakili kepentingan-kepentingan Bani Umayah, kepentingan-kepentingan dari mereka yang memiliki keterampilan administratif yang sangat diperlukan dalam kemaharajaan yang cepat meluas itu. Dia juga di dukung oleh orang Arab Suriah yang selama beberapa tahun telah merasakan pemerintahannya yang baik. Kebanyakan orang Arab ini bukanlah orang-orang yang berasal dari gurun, tetap berasal dari keluarga-keluarga yang menetap di Suriah sejak satu atau dua generasi. Dengan demikian mereka jauh lebih stabil dan andal dibanding orang-orang pengembara yang mengikuti Ali. Kekuasaan orang-orang Arab Suriah ini adalah faktor penting yang membantu Muawiyah
Muawiyah sendiri memiliki kemampuan menonjol sebagai penguasa. Dia dilaporkan memiliki sampai tingkat yang tinggi sifat hilmi yang dikenal orang-orang Mekah. Berbagai terjemahan telah  diberikan bagi kata ini, yang beberapa diantaranya sedikit menyesatkan. Terjemahan yang paling dekat mungkin adalah ‘ketenangan’, tetapi konsepsinya paling baik di pahami dengan melihat keburukan-keburukan yang berlawanan dengan kata itu. Kata itu ialah lawan dari tergesa-gesa dan kurang piker serta bertindak pada saat dipengaruhi oleh emosi. Kata itu berarti tidak mudah di bangun, tetapi menimbang konsekuensi dan implikasi suatu tindakan sebelum benar-benar bertindak. Dalam satu aspek hal itu adalah suatu kebijakan dari seorang penguasa yang cerdik, tetapi dalam aspek lain hal itu menggambarkan kematangan watak. Muawiyah memiliki semua ini, dan pada saat yang bersamaan dia memiliki keterampilan praktis, dalam mengendalikan orang-orangnya. Karena itu dia sanggup mengatasi kesulitan-kesulitan yang timbul dalam kerajaan yang baru mulai tumbuh yang di perintahnya, dan berhasil menyelesaikan masalah-masalah yang merepotkan Usman dan Ali.
Dia juga bijaksana dalam memilih bawahan-bawahan untuk jabatan-jabatan penting. Waupun pemerintahan Muawiyah bebas dari pergolakan-pergolakan besar, terjdi kerusuhan-kerusuhan kecil. Beberapa diantaranya oleh kelompok-kelompok orang yang sebut Khawarij, yang pandangan-pandangannya serupa dengan pandangan-pandangan kelompok yang telah mengencam dan menentang Ali. Mengenai masalah dalam khilafah sendiri di bawah Muawiyah hanya ada satu hal kecil yang perlu disebutkan, yaitu masalah pewarisan jabatan. Di Arab pra-Islam tidak ada dasar hukum bagi pewaris jabatan pada putra tertua.[6]

C.  Keberhasilan Militernya
Setelah mengukuhkan kedudukannya didalam negri, Muawiyah menganut kebijakan luar negeri yang kuat. Perluasan kekuasaan muslim yang besar terjadi dibawah kepemimpinannya. Dia adalah organisator ulung bagi kemenangan-kemenangan. Menurut Prof. Hitty, pemerintah Muawiyah tidak hanya membuktikan konsolidasi, tetapi peluasan wilayah kekhalifahan. Pada masa kekhalifahan Muawiyah, kemajuan besar diperoleh di Timur. Orang-orang dari Heart memberontak, dan mereka ditindas pada tahun 661 M. Dua tahun kemudian Kabul juga diserbu. Operasi-operasi yang sama dilancarkan terhadap Ghazna, Balk, dan Kndahar serta benteng-benteng lainya. Pada tahun 667 M Bukhara direbut, dan dua tahun kemudian Samarkhand dan Tirmid diduduki. Di Timur jauh, tentara muslim hanya di bawah pimpinan Mahalib, anak Abu Sufra, maju sampai ketepi sungai Indus. Demkian Muawiyah menggabungkan seluruh wilayah Asia Tengah sampai ke daerah-daerah pinggiran Anak Benua Indo-Pakistan ke dalam kekuasaanya. Muawiyah tidak hanya menjadi bapak suatu dinasti, tetapi juga pendiri kedua setelah Umar.
Invasi pertama ke Afrika Utara di lakukan pada masa kekhalifahan Umar. Dibawah Usman, kekuasaan-kekuasaan Arab telah maju sampai ke Barce. Setelah kekalahan Gregorius, prefektus, Bizantium, dalam pertempuran yang patut dikenang tidak jauh dari Carthago kono, bangsa Romawi membayar upeti tahunan kepada bangsa Arab yang kemudian menarik diri dari negri itu dengan hanya meninggalkan Garnizun-garnizun kecil disana-sini.
Gubernur-gubernur Romawi menduduki kembali wilayah-wilayah yang ditinggalkan itu, tetapi penindasan-penindasan dan pemerasan-pemerasan mereka tidak tertahankan sehingga tidak lama kemudian para penduduk asli menyerbu bangsa Arab untuk membebaskan mereka dari penindasan orang-orang Bizantium. Muawiyah meluluskan seruan mereka itu, dan suatu pasukan dibawah pimpinan Uqbah yang terkenal, anak nafe, menyerang Ifrikia, mematahkan semua perlawanan, menundukkan negri itu menjadi jajahan Arab.[7]

D.      Pengepungan Konstantinopel
            Pada tahun 48 H Muawiyah mempersiapkan pasukan tentara untuk menaklukan konstantinopel melalui darat dan laut. Komandan pasukan tentara kaum muslimin adalah Sufyan bin ‘Auf.[8] Peristiwa yang paling menyolok didalam kekhalifahan Muawiyah adalah pengepungan konstatinopel. Suatu kesatuan ekspedisi di bawah pimpinan Yazid berlayar menuju Dardanela dan berlabuh disana. Selama enam tahun umat Islam mengepung konstantinopel, ibu kota kerajaan Kristen, dan selama enam tahun keberanian bangsa Romawi dan benteng kota yang tidak bisa direbut itu membuat mereka dapat bertahan. Karena di tekan dari mana-mana, muawiyah memerintahkan penarikan pasukan dari pengepungan itu.



E.  Pemerintahan
            Khalifah Muawiyah mendirikan suatu pemerintahan yang terorganisasi dengan baik, “Situasi ketika Muawiyah menjadi penguasa mengandung banyak kesulitan. Pemerintahan imperiom itu didesentralisasikan, dan kacau serta munculnya anarkisme dan ketidakdisiplinan kaum nomad yang tidak lagi dikendalikan oleh ikata agama dan moral menyebabkan ketidakstabilan dimana-mana dan kehilangan kesatuan. Ikatan teokrasi yang telah mempersatukan kekhalifahan yang lebih dulu, tanpa dapat dihindari telah dihancurkan oleh pembunuhan Usman, oleh perang saudara sebagi akibatnya, dan ada pemindahan ibu kota dari Madinah. Oligarki di Mekkah dikalahkan dan dicemarkan. Yang menjadi masalah bagi Muawiyah ialah mencari suatu dasar baru bagi kepaduan imperium itu. Karena itulah ia mengubah kedaulatan agama menjadi Negara sekoler. Akan tetapi perlu diingat bahwa unsur agama didalam pemerintahan tidak hilang sama sekali. Dia mematuhi formalitas agama dan kadang-kadang menunjukkan dirinya sebagai pejung Islam.
            Muawiyah melaksanakan perubahan-perubahan besar dan menonjol didalam pemerintahan negara itu. Dasar yang sebenarnya dari pemerintahannya terdapat dalam angkatan daratnya yang kuat dan efesien. Dia dapat mengandalkan pasukan orang-orang Siria yang taat dan setia, yang tetap berdiri disampingnya dalam keadaan yang paling berbahaya sekalipun. Dengan bantuan orang-orang Siria yang setia, Muawiyah berusaha mendirikan pemerintahan yang stabil menurut garis-garis pemerintahan Bizantium. Dia bekerja keras bagi kelancaran sistem yang untuk pertama kali digunakannya itu.
            Muawiyah merupakan orang pertama didalam Islam yang mendirikan suatu departemen pencatatan (Diwanul-khatam). Setiap peraturan yang dikeluarkan oleh khalifah harus disalin didalam suatu register, kemudian yang asli harus disegel dan dikirimkan ke alamat yang dituju. Sebelumnya, yang dikirimkan adalah perintah-perintah yang terbuka. Pernah terjadi khalifah memberikan 1000 dirham kepada seseorang dari pembendeharaan provinsi. Surat yang berisi perintah itu dicegat ditengah jalan, dan jumlahnya di ubah dengan angka yang lebih tinggi.[9]

F.   Masa Umayah di Timur (661-680)
            Hampir semua sejarawan membagi Dinasti Umayah (Umawiyah) menjadi dua, yaitu pertama, Dinasti Umayah yang dirintis dan didirikan oleh Muawiyah ibn Abi Sufyan yang berpusat di Damaskus (Suria). Fase ini berlangsung sekitar satu abad dan mengubah sistem pemerintahan dari sistem khilafah pada sistem mamlakat (Kerajaan atau Monarki) dan kedua, Dinasti Umayah di Andalusia (Siberia) yang pada awalnya merupakan wilayah taklukan Umayah dibawah pimpinan seorang Gubernur pada zaman Walid Ibn Abd Al-Malik, kemudian diubah menjadi kerajaan yang terpisah dari kekuasaan Dinasti Bani Abbas setelah berhasil menaklukkan Dinasti Umayah di Damaskus.

G. Prestasi Pemerintahan Umayah
            Perkembangan daerah umat Islam pada masa Umayah diikuti pula dengan kemajuan diberbagai bidang. Pembangunan berjalan pesat, baik dalam segi dakwah maupun pembangunan material. Umat Islam memahami Al-Qur’an yang merupakan pedoman hidup. Dari Al-Qur’an umat Islam menjabarkan berbagai cabang ilmu yang terkandung didalamnya.
            Adapun kemajuan-kemajuan atau prestasi yang diraih umat Islam yaitu:
1.      Kemajuan dibidang dakwah
Umat Islam mampu menyebarkan agama sampai ke Tiongkok, India, Maroko dan Spanyol (Andalusia), di samping umat Islam menyiarkan agama di dalam negeri sendiri dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan, madrasah, membangun mesjid, menulis ilmu-ilmu agama dan lain-lainnya. Pada masa Umayah di mulai pelebaran mesjid Nabawi, mesjid Jami’ Umar, mesjid Damaskus dan lain-lainnya.
2.      Kemajuan di bidang ilmu
Ilmu berkembang sangat pesat, berbagai jenis ilmu ditemukan baik yang bersumber dari Al-Quq’an maupun ilmu yang bersumber dari akal. Ilmu-ilmu yang berkembang pesat seperti ilmu qira’at, ilmu tafsir, ilmu hadis, tata bahasa Arab, ilmu kimia, ilmu kedokteran, ilmu sejarah, ilmu seni arsitektur dan berdiri juga berbagai macam sekolah.
3.      Kemajuan di bidang pemerintahan
Daerah umat Islam pada pemerintahan Umayah sangat luas. Karenanya sangat perlu system pemerintahan yang maju, maka dibentuklah berbagai pegawai. Di dirikan kota-kota pusat pemerintahan, pusat-pusat pengadilan dan dibentuk pula polisi-polisi penjaga keamanan dan lain-lain.
4.      Kemajuan di bidang material
Khalifah-khalifah Umayah berhasil menggali sumber pendapatan Negara dari berbagai sektor pertanian, perdagangan, dan industry. Karena itu, pemerintah mampu membangun berbagai gedung yang sangat indah, gedung sekolah, kantor-kantor, istana dan bangunan lainnya.
5.      Kemajuan dibidang seni
Umat Islam sangat mencintai yang indah, maka pada masa khalifah-khalifah Umayah, masalah seni tidak ketinggalan. Bahkan mengalami kemajuan yang sangat pesat sekali. Bangunan-bangunan mesjid sangat indah, terbuat dari marmar, batu pualam dan dilengkapi dengan kaligrafi Arab.[10]


H.  Runtuhnya Pemerintahan Umayah
            Secara Revolusioner, Daulah Abbasiyyah (750-1258) menggulingkan kekuasaan Daulah Umayyah, kejatuhan Daulah Umayyah disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya meningkatnya kekecewaan kelompok Mawali terhadap Daulah Umayyah, pecahnya persatuan antarasuku bangsa Arab dan timbulnya kekecewaan masyarakat agamis dan keinginana mereka untuk memilki pemimpin karismatik. Sebagai kelompok penganut Islam baru, mawali diperlakukan sebagai masyarakat kelas dua, sementara bangsa Arab menduduki kelas bangsawan. Golongan agamis merasa kecewa terhadap pemerintahan bani Umayyah karena corak pemerintahannya yang sekuler. Menurut mereka, Negara seharusnya dipimpin oleh penguasa yang memiliki integritas keagamaan dan politik. Adapun perpecahan antara suku bangsa Arab, setidak-tidaknya ditandai dengan timbulnya fanatisme kesukuan Arab utara, yakni kelompok Mudariyah dengan kesukuan Arab Selatan, yakni kelompok Himyariyah. Disamping itu, perlawanan dari kelompok syi`ah merupakan faktor yang sangat berperan dalam menjatuhkan Daulah Umayyah dan munculnya Daulah Abbasiyyah.
            Namun secara garis besar faktor yang menyebabkan Daulah Bani Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran antara lain adalah :
1.      Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah merupakan sesuatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidakjelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat dikalangan anggota keluarga istana.
2.      Latar belakang terbentuknya Daulah Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa kaum Syi`ah (pengikut Ali) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka seperti dimasa awal dan akhir maupun secara tersembunyi seperti dimasa pertengahan kekuasaan Bani Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.
3.      Pada masa kekuasaan bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam, makin meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Disamping itu, sebagian besar golongan Mawali (non Arab), terutama di Irak dan wilayah bagian timur lainnya, merasa tidak puasa karena status Mawali itu menggambarkan suatu inferioritas, ditambah dengan keangkuhan bangsa Arab yang diperlihatkan pada masa Bani Umayyah.
4.      Lemahnya pemerintahan Daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah dilingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan, disamping itu, golongan agama yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang.
5.      Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan Daulah Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori  oleh keturunan al-Abbas Ibn Abd. Al-Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi`ah dan kaum Mawali yang merasa dikelas duakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.[11]







BAB III
PENUTUP

Simpulan :
Daulat Bani Umayah didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb bin Umayah. Muawiyah bin Abu Sufyan adalah seorang peneliti sifat manusia yang tekun dan memperoleh wawasan yang tajam tentang pikiran manusia. Dia berhasil memanfaatkan para pemimpin, administrator dan politikus yang paling ahli pada waktu itu. Muawiyah sendiri memiliki kemampuan menonjol sebagai penguasa. Dia juga bijaksana dalam memilih bawahan-bawahan untuk jabatan-jabatan penting. Walaupun pemerintahan Muawiyah bebas dari pergolakan-pergolakan besar, terjadi kerusuhan-kerusuhan kecil.
Adapun kemajuan-kemajuan atau prestasi yang diraih umat Islam yaitu:
1.      Kemajuan dibidang dakwah
2.      Kemajuan di bidang ilmu
3.      Kemajuan di bidang pemerintahan
4.      Kemajuan di bidang material
5.      Kemajuan dibidang seni
            Namun secara garis besar faktor yang menyebabkan Daulah Bani Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran antara lain adalah :
1.      Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan
2.      Latar belakang terbentuknya Daulah Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali.
3.      Pada masa kekuasaan bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam, makin meruncing.
4.      Lemahnya pemerintahan Daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah dilingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan, disamping itu, golongan agama yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang.
5.      Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan Daulah Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori  oleh keturunan al-Abbas Ibn Abd. Al-Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi`ah dan kaum Mawali yang merasa dikelas duakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.















DAFTAR PUSTAKA

Misbah, Ma’ruf, Sejarah Kebudayaan Islam, Semarang: CV. Wicaksana, 1994.
Mahmudunnasir, Syed, Islam Konsep dan Sejarahnya, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994.
Al-Maududi, Abul A’la, Kekhalifahan dan Kerajaan, Bandung: Mizan, 1998.
Wati, W. Montgomery, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990.
Hasan, Ibrahim, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2001.
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II, Cet. XII, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001.



[1] Ma’ruf Misbah, Sejarah Kebudayaan Islam, (Semarang: CV. Wicaksana, 1994) h. 20-21
[2] Syed Mahmudunnasir, Islam Konsep dan Sejarahnya, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994) h. 203
[3] Ma’ruf Misbah, Sejarah Kebudayaan Islam, (Semarang: CV. Wicaksana, 1994) h. 21
[4] Abul A’la Al-Maududi, Kekhalifahan dan Kerajaan, (Bandung: Mizan, 1998) h. 223-224
[5] W. Montgomery Wati, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990) h. 15
[6] W. Montgomery Wati, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Oreintalis, (Yogyakarta: Tiara wacana, 1990), h. 18-20
[7] Syed Mahmudunnasir, Islam konsep dan Sejarahnya (Bandung: Rosda Karya). h. 174
[8] Hasan Ibrahim, Sejarah dan Kebudayaan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2001). h.  8
[9] Syed Mahmudunnasir, Islam Konsep dan Sejarahnya, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994) h. 204-205
[10] Ma’ruf Misbah, Sejarah Kebudayaan Islam, (Semarang: CV. Wicaksana, 1994) h. 29-30
[11] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II, Cet. XII, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), h. 49

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar