Jumat, 04 April 2014

HUBUNGAN MANUSIA, FILSAFAT DAN PENDIDIKAN



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Manusia adalah makhluk yang paling unik dibandingkan dengan makhluk lainnya, sehingga sangat menarik untuk dikaji. Ia semakin berkembang dari hari kehari untuk bertahan hidup dan menjadi lebih baik. Selain itu manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna penciptaannya dari makhluk lain. Dengan panca indera, manusia berusaha memahami benda-benda konkrit. Namun tidak sampai di situ saja, manusia memiliki akal pikiran yang senantiasa bergolak dan berpikir dalam memahami situasi dan dan kondisi yang terjadi di alam. Kehidupan secara lebih baik merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh manusia dalam kehidupannya. Untuk mencapai hidup secara lebih baik manusia perlu untuk dibentuk atau diarahkan.
Problematika pendidikan adalah masalah hidup dan kehidupan manusia. Dalam kehidupannya, manusia akan selalu memerlukan pendidikan agar ia mampu mempertahankan hidup atau dapat mencapai kehidupannya agar lebih baik. Dalam sejarah, pendidikan sudah dimulai sejak adanya makhluk bernama manusia, ini berarti pendidikan itu tumbuh dan berkembang bersama-sama dengan proses perkembangan dan kehidupan manusia.
Dalam paper kerja ini kami akan membahas tentang unsur-unsur pembentuk manusia yang dapat membantu manusia untuk hidup lebih baik. Dengan kata lain, konteks filsafat budaya sebagai ilmu tentang kahidupan manusia akan lebih disempitkan atau dibatasi pada kerangka berpikir pembentukan manusia yang lebih baik.


B.     Rumusan Masalah
a.       Bagaimana hubungan manusia, Filsafat dan pendidikan……….?
C.     Tujiuan Penelitian
Untuk mengetahui sejauh mana hubungan dan keterkaitan antara manusia, filsafat dan pendidikan.















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hubungan Manusia, Filsafat dan pendidikan
Kehidupan secara lebih baik merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh manusia dalam kehidupannya. Untuk mencapai hidup secara lebih baik manusia perlu untuk dibentuk atau diarahkan. Pembentukan manusia itu dapat melalui pendidikan atau ilmu yang mempengaruhi pengetahuan tentang diri dan dunianya, melalui kehidupan sosial, dan melalui agama.
Pembentukan manusia yang lebih baik bukan dalam arti moral; baik buruknya manusia, tetapi dalam arti pembentukan manusia sebagai makhluk yang hidup dan berbudaya dalam perspektif filsafat budaya, yakni hidup yang lebih bijaksana,  dan lebih kritis. Filsafat bukanlah ilmu positif seperti fisika, kimia, biologi, tetapi filsafat adalah ilmu kritis yang otonom di luar ilmu-ilmu positif. Kelompok mencoba mengangkat tiga unsur pembentukan manusia. Ketiga unsur pembentuk itu antara lain:
 (1) pengetahuan manusia tentang diri sendiri dan lingkungannya;
 (2) manusia dalam hubungannya dengan hidup komunitas; dan
(3) agama membantu manusia hidup dengan lebih baik.
Pengetahuan menjadi unsur yang penting dalam usaha membentuk manusia yang lebih baik. Dengan pengetahuan yang memadai manusia dapat mengembangkan diri dan hidupnya. Apa yang diketahui secara lebih umum dalam pengetahuan, dalam ilmu diketahui secara lebih masuk akal.
Pengetahuan yang dimaksud di sini lebih pada pengetahuan manusia tentang diri sendiri dan dunianya. Ketika manusia mengetahui dan mengenal dirinya secara penuh, ia akan hidup secara lebih sempurna dan lebih baik dalam dunia yang adalah dunianya. Berkaitan dengan itu manusia juga membutuhkan pengetahuan tentang lingkungan atau dunianya. Dengan pengetahuan yang ia miliki tentang dunia atau lingkungannya, manusia dapat mengadaptasikan dirinya secara cepat dan lebih mudah.
Manusia ternyata tidak hidup sendirian dalam dunianya. Ia hidup dalam hubungan dengan dan membutuhkan manusia lain, yang menunjukkan hakikat dari manusia, yaitu sebagai makhluk sosial. Manusia membutuhkan orang lain untuk dapat membentuk dan mengembangkan dirinya sehingga dapat hidup secara lebih baik; lebih bijaksana dan lebih kritis. Dengan demikian manusia pada hakikatnya hidup bersama dengan orang lain atau hidup dalam suatu komunitas tertentu. Jadi, kebersamaannya dengan orang lain dalam suatu komunitas inilah yang turut menentukan pembentukan yang memperkenankan manusia itu hidup atas cara yang lebih baik dan lebih sempurna dalam dunianya.
Unsur lain yang dapat membantu membentuk manusia sehingga manusia dapat hidup secara lebih baik, lebih bijaksana adalah agama. Ketiga unsur pembentuk manusia untuk hidup secara lebih baik itu akan dilihat dan dijelaskan secara lebih dalam pokok-pokok berikut.
1.      Manusia mengetahui dirinya dan dunianya
Telah dikatakan sebelumnya (pada bagian pendahuluan) bahwa pengetahuan merupakan salah satu unsur yang penting dalam hubungan dengan pembentukan manusia untuk hidup secara lebih baik dan lebih sempurna. Manusia adalah makluk yang sadar dan mempunyai pengetahuan akan dirinya. Selain itu juga manusia juga mempunyai pengetahuan akan dunia sebagai tempat dirinya bereksistensi.
Dunia yang dimaksudkan di sini adalah dunia yang mampu memberikan manusia kemudahan dan tantangan dalam hidup. Dunia di mana manusia bereksistensi dapat memberikan kepada manusia sesuatu yang berguna bagi pembentukan dan pengembangan dirinya. Pengetahuan merupakan kekayaan dan kesempurnaan bagi makhluk yang memilikinya.
Manusia dapat mengetahui segala-galanya, maka ia menguasai makhluk lain yang penguasaannya terhadap pengetahuan kurang. Dalam lingkungan manusia sendiri seseorang yang tahu lebih banyak adalah lebih baik bila dibandingkan dengan yang tidak tahu apa-apa. Pengetahuan menjadikan manusia berhubungan dengan dunia dan dengan orang lain, dan itu membentuk manusia itu sendiri.
2.      Manusia dalam hidup komunitas   
Secara umum komunitas dapat diartikan sebagai suatu perkumpulan atau persekutuan manusia yang bersifat permanen demi pencapaian suatu tujuan umum yang diinginkan. Dan umumnya tujuan yang hendak dicapai itu didasarkan atas kesatuan cinta dan keprihatinan timbal balik satu dengan yang lain. Jadi, secara tidak langsung hidup komunitas dapat dimengerti sebagai suatu kehidupan dimana terdapat individu-individu manusia yang membentuk suatu persekutuan guna mancapai suatu tujuan bersama. Dan tujuan yang dicapai itu selalu merunjuk pada nilai-nilai tertentu yang diinginkan bersama.
Misalnya, nilai kebaikan, keindahan, kerja sama dan sebagainya. Selanjutnya, dalam mencapai tujuan bersama itu setiap individu (anggota persekutuan) saling berinteraksi atau bekerjasama satu dengan yang lain guna tercapainya tujuan yang ingin dicapai. Akan tetapi serentak pula tak dapat disangkal bahwa melalui kehidupan komunitas kepribadian manusia dapat dibentuk melalui proses sosialisai dan internalisasi. Artinya, melalui nilai-nilai yang dicapai dalam hidup komunitas itu disampaikan kepada setiap individu (anggota persekutuan). Selanjutnya, nilai-nilai itu dijadikan oleh pegangan dalam diri setiap individu.

3.       Agama membantu manusia hidup lebih baik
Arti budaya telah diangkat kembali oleh renesans dengan karakter naturalistik, yaitu budaya dipahami sebagai pembentukan manusia dalam dunianya, yakni sebagai pembentukan yang memperkenankan manusia hidup atas cara yang lebih bijaksana dan lebih sempurna dalam dunia yang adalah dunianya. Dalam konteks ini, agama mendapat tempat dan peranan penting.
 Agama dimengerti sebagai unsur integral dari budaya, terutama karena mengajarkan bagaimana hidup dengan baik, hidup dengan bijaksana dan nilai-nilai universal lainnya. Dalam agama terkandung ajaran-ajaran kebijaksanaan (dalam arti tertentu filsafat dipahami sebagai kebijaksanaan) yang dapat mengarahkan manusia kepada hidup yang lebih baik. Dengan demikian, hidup yang lebih baik dalam perspektif filsafat budaya adalah pembentukan kebijaksanaan secara internal dalam diri manusia melalui ajaran-ajaran agama.
Manusia tidak dapat dilepaskan dari agama dalam kehidupannya. Maksudnya adalah bahwa agama menjadi sarana di mana manusia dapat memenuhi keinginannya untuk dapat hidup dengan lebih bijaksana. Dengan kata lain agama membantu manusia untuk dapat hidup lebih baik. Melalui agama manusia dapat menjadi bijaksana untuk mencapai realisasi dirinya yang lengkap sehingga menjadi suatu microcosmos yang sempurna dalam macrocosmos.
Setiap agama umumnya mengajarkan kepada para penganut atau pengikutnnya untuk hidup sebagai orang yang saleh, baik di hadapan manusia maupun di hadapan yang Ilahi. Dengan demikian agama dapat mengarahkan manusia kepada hidup yang lebih baik. Agama membentuk manusia untuk menjadi lebih baik, lebih bijaksana dengan menanamkan nilai-nilai universal dalam diri manusia itu.[1]
Manusia sebagai makhluk hidup umumnya mempunyai cirri-ciri sebagai berikut.
1. Organ tubuhnya kompleks dan sangat khusus, terutama otakmya.
2. Mengadakan metabolisme atau penyusun dan pembongkaran  zat, yaitu ada zat yang masuk dan keluar.
3. Memberikan tanggapan terhadap rangsangan dari dalam dan luar.
4. Memiliki potensi untuk berkembang.
5. Tumbuh dan berkembang
6. Berinteraksi dengan lingkungannya.
7. Bergerak.
            Apabila di bandingkan dengan tubuh hewan tingkat tinggi lainnya, seperti gajah, harimau, burung, dan buaya, tubuh manusia lebih lemah. Gajah dapat mengangkat balok yang berat, harimau dapat berjalan cepat, burung dapat terbang, dan buaya dapat berenang cepat. Sekalipun demikian, rohani manusia, yaitu akal budi dan kemauannya sangat kuat sehingga dengan akal budi dan kemauannya, manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. [2]
            Rasa ingin tahu atau kuriositas manusia terus tumbuh dan berkembang dengan pesat. Rasa ingin tahu ini tidak pernah dapat terpuaskan apabila suatu masalah dapat di pecahakan, akan tibul masalah lain yang menunggu pemecahannya, manusia bertanya terus, setelah tahu apa, ia ingin tahu bagaimana dan mengapa. Dengan demikian, manusia mampu menggunakan pengetahuan yang telah lama yang di peroleh dikombinasikan dengan pengetahuan yang baru menjadi pengetahuan yang lebih baru lagi.
Manusia menggunakan rasionya sebagai alat untuk hal-hal berikut.
1. Menemukan kebenaran dalam pendidikan.
2. Merasionalisasi segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada dengan cara berpikir yang mendalam, logis, dan rasional untuk mengembangkan pola pendidikan yang utama bagi peningkatan akhlak manusia kepada Allah SWT. Dan sesama manusia.
3. Menjadikan semua objek ilmu pengetahuan sebagai objek material yang cara kerjanya radikal dan mendalam untuk mengembangkan kurikulum pembelajaran.
4. Kebenaran yang bersifat observatif dan empiris sebagai langkah awal menuju pencarian kebenaran yang hakiki. Dengan demikian, pendidikan dikembangkan dengan paradigm bersama depan.
            Dalam persepektif filsafat pendidikan, mempelajari jati diri manusia sangat penting karena alasan berikut.
1.      Semua manusia tercipta dalam keadaan tidak memiliki ilmu pengetahuan, manusia bagian dari alam.
2.      Manusia terlahir dalam keadaan fitrah, diciptakan dengan fitrahNya.sumber ilmu berasal dari Allah pencipta manusia.
3.      Manusia diwajibkan mencari ilmu, sumber ilmu berasal dari Allah pencipta manusia.
4.      Belajar dan mengamati jiwa manusia merupakan metode mengesakan Tuhan.
5.      Manusia berasal dari Tuhan. Oleh karena itu, manusia diciptakan sebagai pelajaran bagi manusia sendiri tanpa mengenal batas dan keyakinan.
Kelima alasan berikut merupakan titik tolak dan prinsip lahirnya filsafat pendidikan tentang manusia. Hal ini karena dengan lima pandangan tersebut, manusia tidak berhenti mengembangkan pendidikan, baik secara praktis. Sebgai hasilnya, pendidikan semakin berkembang dan jati diri manusia semakin diketahui eksitensinya.
      Adapun fungsi filsafat pendidikan tentang manusia adalah :
1.      Meningkatkan pola hidup manusia di muka bumi;
2.      Meningkatkan kebudayaan masyarakat dlm merekayasa dan mengeksploitasi alam;
3.      Meningkatkan kemandirian manusia dalam bertahan hidup;
4.      Memelihara kelangsungan reproduksi;
5.      Mewasdai gejalaalam yang akan menimbulkan petaka bagi manusia;
6.      Memelihara dirinya dari berbagi macam penyakit;
7.      Beradaptasi dengan kondisi alam yang berubah-ubah;
8.      Meningkatkan harkat dan mertabat manusia dari segi pendidikan kealaman;
9.      Fungsi ekonomi, polotik, agama, dan sosial budaya; dan
10.  Sarana pengabdian kepada Tuhan,
Filsafat pendidikan tentang manusia wajib dipelajari agar manusia memiliki kapabilitas yang ilmiah dalam membaca dalam gejala kemanusiaan universal dan memanfaatkan berbagai kelebihannya untuk menjalankan kehidupan di dunia.
Ciri-ciri filsafat tentang manusia adalah :
1.      Merupakan pengetahuan filsafat yang universal karena seluruh kajian filsafat akan membicarakan manusia;
2.      Menjadikan manusia sebagai subjek dan objek pengembangan;
3.      Memerlukan pemahaman mendalam agar manusia menyadari kepentingan halam jagat raya ini hidup berdampingan dengan seluruh alam jagat raya ini;
4.      Memahami keberadaan manusia secara komprehensif dan kontemplatif.
Adapun manfaat filsafat pendidikan tentang manusia adalah manfaat filsafat pendidikan tentang manusia adalah memberikan pengethuan empiris dan terukur kepada manusia, sebagai mana gejala ke manusian yang dapat di hitung secara matematis sehingga manusia lebih wapada menghadapi berbagai perubahan kehidupan yang akan mendatangkan mala petaka.[3]



















BAB III
PENUTUP
Simpulan
Kehidupan secara lebih baik merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh manusia dalam kehidupannya. Untuk mencapai hidup secara lebih baik manusia perlu untuk dibentuk atau diarahkan. Pembentukan manusia itu dapat melalui pendidikan atau ilmu yang mempengaruhi pengetahuan tentang diri dan dunianya, melalui kehidupan sosial, dan melalui agama.
Manusia sebagai makhluk hidup umumnya mempunyai cirri-ciri sebagai berikut; Organ tubuhnya kompleks dan sangat khusus, terutama otakmya, mengadakan metabolisme atau penyusun dan pembongkaran  zat, yaitu ada zat yang masuk dan keluar, memberikan tanggapan terhadap rangsangan dari dalam dan luar, memiliki potensi untuk berkembang, tumbuh dan berkembang, berinteraksi dengan lingkungannya dan bergerak.










DAFTAR PUSTAKA

Prasetya ,1997, Filsafat Pendidikan, Bandung; CV. Pustaka Setia
Jalaluddin dan Idi Abdullah, 2010, Filsafat Pendidikan, Jogjakarta; Ar-Ruzz Media
Salahudin Anas, 2011, Filsafat Pendidikan, Bandung; Pustaka Setia
http//leonardoansis. Wordpress.com/ goresan-pena-sahabatku-yono/filsafat-sebagai-ilmu-tentang-kehidupan-manusia/’’\1’’-ftnref8’’.


.Jalaluddin, Filsafat Pendidikan,( Jogjakarta; Cv Ar-Ruzz Media ), 2011,hal 135-136
[2] Mascoeri Jasin, Ilmu Alamiah Dasar, ( Surabaya ; Bina ilmu ), 2006 hal 2
[3] Ana Salahudin, Filsafat Pendidikan, ( Bandung; Pustaka Setia ) ,  2011 hal 91-94

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar