Kamis, 10 April 2014

HADITS PADA MASA SAHABAT



HADIS PADA MASA SAHABAT
                 Periode kedua sejarah perkembangan hadis, adalah masa sahabat, khususnya masa khulafa ar-Rasyidin (Abu bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib), sekitar tahun 11 H sampai dengan 40 H. Masa ini juga disebut dengan masa sahabat besar.
1.      Menjaga pesan Rasulullah SAW
     Pada masa menjelang akhir kerasulannya, Rasul SAW berpesan kepada para sahabat agar berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Hadis serta mengajarkannya kepada orang lain, sebagaimana sabdanya :
تَرَكْتٌ فِيْكٌمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلٌوا بَعْدَهُمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَتِى رَوَاهُ الحَاكِمُ عَنْ أَبِي هُرَيْرةَ

”Telah aku tinggalkan untuk kalian dua macam, yang tidak akan sesat setelah berpegang kepada keduanya, yaitu kitab Allah (al-Qur’an) dan Sunnahku (al-Hadis)”.
Dan sabdanya pula :
بَلِغُواعَنِّي وَلَوأيَةً  رِوَاهُ الُبخَارِي عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِوَبْنِ العَاصِ.

“Sampaikanlah dariku walau satu ayat/satu hadis,”
2.      Berhati-hati dalam meriwayatkan dan menerima hadis
     Kehati-hatian dan usaha membatasi periwayatan yang dilakukan para sahabat. Abu bakar sebagai khalifah yang pertama menunjukkan perhatiannya dalam memelihara hadis.
Perhatian para sahabat pada masa ini terutama sekali terfokus pada usaha memelihara dan menyebarkan al-Qur’an. Ini terlihat bagaimana al-Qur’an dibukukan pada masa Abu Bakar atas saran Umar Bin Khatab. Usaha pembukuan ini diulang juga pada masa Usman bin affan, sehingga melahirkan mushaf Usmani. Satu d simpan di Madinah yang dinamai mushaf al-imam, yang empat buah lagi masing-masing disimpan di makkah, basrah, siria, dan kuffah. Sikap memusatkan perhatian terhadap al-Qur’an tidak berarti mereka lalai dan tidak menaruh perhatian terhadap hadis. Mereka memegang hadis seperti halnya yang diterimanya dari Rasulullah SAW secara utuh ketika ia masih hidup. Akan tetapi dalam meriwayatkan mereka sangat berhati-hati dan membatasi diri.






3.      Periwayatan hadis dengan lafaz dan makna
Ada dua jalan para sahabat dalam meriwayatkan hadis dari Rasul SAW
·         Periwayatan Lafzi
Adalah periwayatan hadis yang redaksinya atau matannya persis seperti yang di wurudkan Rasul SAW. Ini hanya bisa dilakukan apabila mereka hafal benar apa yang disabdakan Rasul SAW.
Dalam hal ini Umar bin khatab pernah berkata :
“barangsiapa yang mendengar hadis dari Rasul SAW kemudian ia meriwayatkannya sesuai dengan yang ia dengar, orang itu selamat”.
·         Periwayatan Maknawi
Adalah periwayatan hadis yang matannya tidak persis sama dengan didengarnya dari Rasul SAW, akan tetapi isi atau maknanya tetap terjaga secara utuh, sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Rasul SAW tanpa ada perubahan sedikitpun.
C. HADIS PADA MASA TABIIN
            Pada dasarnya periwayatan yang dilakukan oleh kalangan Tabiin tidak begitu berbeda dengan yang dilakukan oleh para sahabat. Ketika pemerintah di pegang oleh Bani Umayah, wilayah kekuasaan islam sampai meliputi Mesir, Persia, Iraq, afrika, selatan Samarkand dan spanyol, di samping madinah, makkah, basrah, syam, dan khurasan. Sejalan dengan pesatnya perluasan wilayah kekuasaan islam, penyebaran para sahabat ke daerah-daerah tersebut terus meningkat, sehingga masa ini dikenal dengan masa menyebarnya periwayatan hadis.
1.      Pusat-pusat pembinaan hadis
Beberapa kota sebagai pusat pembinaan dalam periwayatan hadits, Sebagai tempat tujuan para tabiin dalam mencari hadits. Pusat prmbinaan pertama adalah Madinah. Diantara para sahabat di makkah tercatat nama-nama, seperti Mu’ad bin Jabal, ‘Atab bin al-Haris.
2.      Pergolakan politik dan pemalsuan hadis
Terjadi pada masa sahabat, setelah terjadinya perang jamal dan perang siffin.
Pengaruh yang bersifat negatif ialah dengan munculnya hadits-hadits palsu (maudu’) [1]


[1] SUPARTA, Munzier, ilmu hadis (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada 1996) cet. Ke 2, h. 66-74.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar